JAKARTA, Cobisnis.com - Menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji tidak otomatis membuat seseorang memperoleh haji yang diterima Allah SWT. Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa tingkatan kualitas haji, salah satunya adalah haji mardud atau haji yang tertolak.
Berdasarkan penjelasan yang dirangkum BPKH dari berbagai literatur Islam, kualitas haji dibagi menjadi tiga tingkatan. Yakni haji mardud, haji maqbul yang sah secara tata cara, dan haji mabrur yang membawa perubahan positif dalam kehidupan pelakunya.
Salah satu penyebab haji tidak bernilai sempurna adalah niat yang tidak ikhlas. Jika tujuan berhaji lebih karena gengsi, status sosial, atau ingin mendapat pujian, maka nilai spiritual ibadah tersebut dapat berkurang.
Faktor lain adalah kurangnya pemahaman dan kepatuhan terhadap syariat haji. Jemaah perlu memahami rukun, kewajiban, dan larangan haji agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalankan dengan benar.
Sumber biaya haji juga menjadi hal yang penting. Harta yang digunakan untuk berhaji seharusnya berasal dari cara yang halal karena kebersihan harta merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah.
Selain itu, jemaah perlu memahami makna haji secara mendalam. Haji bukan hanya perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kualitas akhlak.
Tanda haji mabrur terlihat setelah seseorang kembali ke kehidupan sehari-hari. Perubahan sikap, ucapan yang lebih baik, meningkatnya kepedulian kepada sesama, serta kualitas ibadah yang semakin baik menjadi ukuran utama diterimanya ibadah haji.