Hati-hati, Kekurangan Nutrisi Ini Bisa Memicu Cemas

Oleh Hidayat Taufik pada 08 Oct 2026, 12:12 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Kondisi kecemasan tidak hanya berkaitan dengan faktor psikologis. Asupan nutrisi juga menjadi salah satu hal yang mulai diteliti karena berpotensi berhubungan dengan kesehatan otak dan mental.

Salah satu nutrisi yang mendapat perhatian adalah kolin. Ahli diet terdaftar Lauren Manaker, MS, RDN, LD, CLEC, CPT, menyebut penelitian pada 2025 menemukan keterkaitan antara rendahnya kadar kolin di otak dan gangguan kecemasan.

Mengenal Peran Kolin bagi Tubuh

Kolin termasuk nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan sejumlah fungsi penting. Zat ini berperan dalam pembentukan sel, produksi DNA, serta menjaga sistem saraf tetap berfungsi.

"Nutrisi ini juga menjadi fondasi penting bagi asetilkolin, yaitu zat pembawa pesan di otak yang bertugas mengatur suasana hati, ingatan, dan kendali otot," terang Manaker.

Meskipun tubuh mampu memproduksi sebagian kecil kolin melalui hati, kebutuhan sehari-hari tetap perlu diperoleh dari makanan.

Studi Temukan Kaitan Kolin dengan Kecemasan

Kemajuan teknologi pemeriksaan otak memungkinkan peneliti mengamati berbagai perubahan kimia yang terjadi pada orang dengan gangguan kecemasan.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah proton magnetic resonance spectroscopy (1H-MRS). Metode tersebut dapat membantu mengukur komposisi kimia tertentu yang terdapat di dalam otak.

Sebuah analisis yang mencakup lebih dari 20 penelitian dalam jurnal Molecular Psychology menemukan perbedaan kadar senyawa kolin pada otak orang yang mengalami gangguan kecemasan.

Penelitian berjudul "Transdiagnostic reduction in cortical choline-containing compounds in anxiety disorders: a 1H-magnetic resonance spectroscopy meta-analysis" menunjukkan kadar senyawa kolin (tCho) cenderung lebih rendah pada beberapa bagian otak, termasuk korteks prefrontal.

Menurut Manaker, korteks prefrontal memiliki fungsi penting dalam membantu seseorang mengambil keputusan sekaligus mengendalikan respons terhadap rasa takut dan stres.

"Korteks prefrontal sendiri berfungsi layaknya pusat kendali otak yang membantu proses pengambilan keputusan serta mengatur respons terhadap rasa takut maupun stres," jelas Manaker.

"Saat kadar kolin di area ini merosot tajam, bagian otak yang bertugas berpikir logis akan kesulitan menenangkan sinyal panik dari bagian otak yang cemas," imbuhnya.

Peneliti menduga kondisi kecemasan yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan penggunaan kolin oleh otak. Nutrisi tersebut dibutuhkan untuk membantu pemeliharaan sel dan fungsi saraf.

Apabila kebutuhan kolin tidak tercukupi melalui asupan makanan, kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi keseimbangan fungsi otak.

Kolin Tidak Menggantikan Terapi

Meski penelitian menemukan hubungan antara kadar kolin dan gangguan kecemasan, temuan tersebut belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat secara langsung.

Dengan demikian, belum dapat dipastikan apakah rendahnya kadar kolin memicu kecemasan atau kondisi kecemasan justru berperan dalam menurunkan kadar kolin.

Kolin tetap memiliki fungsi penting bagi tubuh, terutama dalam menunjang kerja otak, pembentukan sel, dan fungsi hati.

Namun, menambah asupan kolin tidak berarti seseorang dapat menghentikan pengobatan atau terapi yang sedang dijalani.

Kolin bukan pengganti obat, terapi, ataupun perawatan yang diberikan tenaga kesehatan mental profesional.

Makanan yang Bisa Menambah Asupan Kolin

National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat merekomendasikan konsumsi kolin sekitar 425 miligram setiap hari bagi perempuan dewasa sehat. Sementara kebutuhan laki-laki dewasa berada di kisaran 550 miligram per hari.

Kebutuhan tersebut dapat berubah dan meningkat selama masa kehamilan serta menyusui.

Telur termasuk makanan yang relatif mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan kolin. Satu telur berukuran besar mengandung sekitar 147 miligram kolin, terutama pada bagian kuningnya.

Selain telur, sejumlah makanan lain juga dapat menjadi sumber kolin.

"Kamu juga bisa rutin menyantap daging tanpa lemak seperti daging ayam maupun sapi. Mengonsumsi ikan berlemak seperti salmon, kod, atau nila juga disarankan karena ikan-ikan tersebut kaya akan asam lemak omega-3 yang bagus untuk perlindungan otak," Manaker berujar.

Produk berbahan dasar susu juga dapat menjadi pilihan untuk menambah asupan nutrisi tersebut.

Bagi yang lebih banyak mengonsumsi makanan nabati, beberapa sumber kolin antara lain edamame, tahu, brokoli, kembang kol, kubis Brussel, kentang, kacang merah, dan kinoa.

Jumlah kolin dalam bahan pangan nabati umumnya lebih rendah dibandingkan sejumlah sumber hewani. Meski demikian, makanan tersebut tetap dapat melengkapi pola makan bergizi.

Suplemen kolin juga dapat menjadi pilihan apabila asupan dari makanan belum mencukupi. Namun, penggunaannya sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter.