Ibu Hamil Anemia, Studi Ungkap Volume Otak Bayi Rata-rata 4% Lebih Kecil

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 08 Oct 2026, 13:10 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Anemia selama kehamilan tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan ibu. Sebuah penelitian menemukan adanya hubungan antara anemia pada ibu hamil dan perbedaan perkembangan otak bayi.

Penelitian tersebut dilakukan peneliti dari King's College London dan University of Cape Town. Studi ini melibatkan lebih dari 300 ibu dan bayi di Cape Town, Afrika Selatan.

Para peneliti melakukan pemindaian otak bayi beberapa kali sejak usia tiga bulan hingga dua tahun. Hasilnya, bayi yang lahir dari ibu dengan anemia memiliki volume otak total rata-rata 4% lebih kecil dibandingkan bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia.

Perbedaan juga ditemukan pada tiga bagian otak, yaitu putamen, caudate nucleus, dan corpus callosum. Bagian tersebut berkaitan dengan sejumlah fungsi penting, termasuk pergerakan, pemrosesan informasi, pengaturan emosi, dan fungsi eksekutif.

Peneliti Jessica Ringshaw mengatakan perbedaan tersebut tidak serta merta hilang ketika anak bertambah usia. Pada corpus callosum, misalnya, perbedaannya sekitar 4% ketika anak berusia 12 bulan dan melebar menjadi sekitar 6% pada usia 24 bulan.

"Anak-anak ini bukan sedang mengejar ketertinggalan, ketika perbedaan pada otak perlahan menghilang," kata Ringshaw.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena perkembangan sejumlah bagian otak berkaitan dengan kemampuan anak saat tumbuh. Kemampuan tersebut mencakup kecepatan memproses informasi hingga kemampuan mengatur emosi.

Ringshaw juga mengatakan perbedaan perkembangan otak masih ditemukan ketika anak berusia sekitar enam tahun, saat mereka mulai bersekolah. Pada tahap tersebut, perbedaan perkembangan otak berpotensi berkaitan dengan kemampuan kognitif anak.

Meski demikian, penelitian ini tidak berarti setiap bayi yang lahir dari ibu dengan anemia akan mengalami gangguan perkembangan. Studi tersebut menemukan hubungan antara anemia pada ibu dan perbedaan volume otak bayi, sementara perkembangan anak dipengaruhi banyak faktor.

Anemia sendiri merupakan kondisi yang cukup umum selama kehamilan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat lebih dari sepertiga perempuan hamil di dunia mengalami anemia, dengan angka tertinggi di Afrika sub Sahara dan Asia Selatan.

Anemia umumnya terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah cukup untuk membawa oksigen melalui darah. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat karena tubuh mendukung pertumbuhan janin sekaligus peningkatan volume darah ibu.

Dalam penelitian tersebut, kondisi sosial ekonomi ibu yang mengalami anemia dan yang tidak mengalami anemia relatif serupa, termasuk dari sisi pendapatan rumah tangga dan keamanan pangan. Para peneliti juga menemukan tingkat anemia lebih tinggi pada perempuan yang hidup dengan HIV, menunjukkan bahwa penyebab anemia dapat berkaitan dengan berbagai faktor kesehatan.