JAKARTA, Cobisnis.com — Kebiasaan tidur larut malam banyak dilakukan anak muda. Bermain game online, menonton tayangan, hingga berselancar di media sosial kerap membuat waktu istirahat berkurang.
Meski tubuh masih terasa bugar pada usia muda, kebiasaan begadang dapat berdampak pada kesehatan. Salah satunya adalah fungsi otak, terutama kemampuan mengingat dan berkonsentrasi.
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K, menjelaskan tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan tubuh.
Saat tidur, otak tetap bekerja untuk menjalankan sejumlah proses penting, termasuk konsolidasi memori.
“Pada saat kamu tidur, selain otak lagi deep clean, dia juga lagi konsolidasi memori. Jika kualitas tidur kita tidak baik, otomatis konsolidasi memori itu tidak terjadi,” katanya dalam Grand Launching Brain Wellness & Sleep Center di Seraphim Medical Center, Gading Serpong, Tangerang, dikutip Jumat (1/10/2026).
Menurut dr. Niken, terganggunya proses konsolidasi memori dapat dirasakan pada aktivitas sehari-hari. Kurang tidur dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi, mengalami penurunan kemampuan belajar, dan lebih mudah lupa.
“Akibatnya, besoknya kita kurang konsentrasi, kemampuan belajar itu berkurang, mudah lupa, yang makin lama akan mempengaruhi seperti lingkaran setan,” tambahnya.
Begadang Bisa Memicu Stres
Kurang tidur dalam jangka panjang tidak hanya berpengaruh terhadap fungsi kognitif. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keadaan emosional dan metabolisme tubuh.
dr. Niken mengatakan tubuh dapat mengalami peningkatan hormon kortisol ketika seseorang terus-menerus kekurangan waktu tidur.
“Efek jangka panjangnya bisa mudah stres, karena hormon kortisol itu meningkat. Di-trigger lagi kortisol meningkat, siklus tidur tidak membaik,” papar dr. Niken.
Peningkatan kortisol juga dapat memengaruhi proses tubuh dalam mengolah gula dan lemak. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan peningkatan berat badan dan risiko penyakit metabolik.
“Hormon kortisol meningkat terus, berat badan itu menjadi meningkat, yang lama-lama membawa ke arah penyakit metabolik,” tegasnya.
Memperbaiki Pola Tidur
Untuk menjaga kesehatan otak, dr. Niken mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, memperbaiki kebiasaan tidur.
Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh menjalankan proses pemulihan secara optimal. Kebiasaan tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi kognitif dalam jangka panjang.
“Ketika tidur kita mulai diperbaiki, maka ini jadi satu langkah yang cukup baik untuk brain wellness untuk masa depan,” pungkas dr. Niken.