Ingin Otak Tetap Sehat di Usia Tua? Lakukan 3 Kebiasaan Ini

Oleh Hidayat Taufik pada 13 Sep 2026, 11:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com  - Kesehatan otak perlu mendapat perhatian sejak seseorang memasuki usia paruh baya.

Bertambahnya usia dapat diikuti perubahan kemampuan kognitif, termasuk dalam hal mengingat, berpikir, dan menjaga konsentrasi. Penurunan fungsi tersebut juga berkaitan dengan risiko demensia pada masa mendatang.

Sebuah penelitian mengidentifikasi sejumlah aspek kesehatan yang memiliki hubungan dengan kemampuan kognitif pada kelompok usia paruh baya dan lanjut usia.

Dari sejumlah faktor yang diamati, aktivitas fisik serta pengendalian kadar gula darah menunjukkan hubungan yang cukup kuat dengan kondisi fungsi otak dalam jangka panjang.

1. Biasakan Tubuh Tetap Aktif

Menjaga tubuh tetap aktif dapat menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan kemampuan otak seiring bertambahnya usia. Hal tersebut terlihat dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Alzheimer’s & Dementia.

Riset tersebut melibatkan 402 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia. Ketika penelitian dimulai, seluruh peserta belum menunjukkan tanda-tanda mengalami penurunan fungsi kognitif.

Para peneliti menilai kondisi kesehatan jantung peserta menggunakan tujuh indikator yang ditetapkan American Heart Association. Penilaian tersebut mencakup pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan menggunakan tembakau, kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol total, serta indeks massa tubuh.

Peserta kemudian dipantau selama beberapa tahun. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa aktivitas fisik termasuk faktor yang memiliki keterkaitan kuat dengan kemampuan kognitif.

Khusus pada peserta keturunan Meksiko-Amerika, mereka yang lebih aktif secara fisik cenderung mengalami penurunan kognitif dengan kecepatan yang lebih lambat.

Gill Livingston, profesor di Division of Psychiatry University College London, menjelaskan bahwa aktivitas fisik juga mendukung peredaran darah dan suplai oksigen menuju otak.

“Berpikir membutuhkan bahan bakar, dan bahan bakar otak Anda adalah glukosa dan oksigen,” kata Livingston, dikutip dari berbagai sumber, Minggu (13/9/26).

“Olahraga juga mengantarkan oksigen ke otak dan melindungi pembuluh darah,” lanjutnya.

Untuk orang dewasa, rekomendasi aktivitas fisik mencapai sedikitnya 150 menit per minggu untuk intensitas sedang atau 75 menit untuk aktivitas dengan intensitas tinggi.

Namun, memulai kebiasaan aktif tidak harus dilakukan dengan olahraga berat. Bagi orang yang belum terbiasa beraktivitas fisik, berjalan kaki atau melakukan yoga dapat menjadi pilihan. Intensitasnya kemudian dapat ditambah secara perlahan sesuai kemampuan.

2. Pantau Kadar Gula Darah

Kadar gula darah juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menjaga fungsi kognitif. Dalam penelitian tersebut, kondisi gula darah menunjukkan hubungan yang cukup kuat dengan perubahan kemampuan otak.

Pada kelompok peserta berkulit putih non-Hispanik, kadar gula darah yang sehat dikaitkan dengan proses penurunan kognitif yang berlangsung lebih lambat.

Livingston menjelaskan bahwa glukosa berperan sebagai sumber energi bagi otak. Karena itu, menjaga kadar gula darah tetap terkendali menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi tubuh tersebut.

“Jika glukosa Anda terlalu rendah, ada kemungkinan terjadi kerusakan pada sel saraf otak, dan jika glukosa terlalu tinggi, hal itu berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah sehingga lebih sedikit darah yang mengalir ke otak,” jelasnya.

Pemeriksaan secara berkala diperlukan untuk mengetahui kondisi gula darah. Sebab, kadar glukosa dalam tubuh tidak selalu dapat diketahui hanya dengan memperhatikan gejala yang muncul.

“Penting untuk melakukan pemeriksaan karena Anda tidak dapat mengetahui sendiri bagaimana kadar gula darah Anda,” tutur Livingston.

Beberapa tanda yang dapat muncul ketika terjadi masalah pada kadar glukosa antara lain frekuensi buang air kecil meningkat, rasa haus menjadi lebih sering, serta berat badan turun tanpa direncanakan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah tinggi atau diabetes, penanganan sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Langkah yang diberikan dapat berupa penyesuaian pola makan, menambah aktivitas fisik, hingga mengonsumsi obat sesuai kebutuhan.

3. Jaga Tekanan Darah, Kolesterol, dan Berat Badan

Menjaga fungsi otak tidak cukup hanya dengan berolahraga dan mengontrol gula darah. Kondisi kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.

David S. Knopman, profesor neurologi di Mayo Clinic, mengatakan berbagai faktor kesehatan pembuluh darah memiliki peran dalam menjaga kondisi otak.

“Bukan hanya aktivitas fisik dan pengendalian gula darah pada usia paruh baya yang berkaitan dengan risiko demensia di kemudian hari,” kata Knopman.

“Keseluruhan ukuran kesehatan pembuluh darah mencakup mengendalikan tekanan darah tinggi dan kadar lemak darah yang tinggi, memiliki pola makan yang baik, menghindari rokok, serta menangani obesitas dan sleep apnea obstruktif,” lanjutnya.

Karena itu, menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol tetap terkendali juga penting. Selain itu, pola makan yang baik, menghindari rokok, serta menjaga berat badan dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan pembuluh darah dan otak.

Peneliti juga memberikan catatan mengenai cakupan penelitian. Studi tersebut hanya melibatkan orang dewasa keturunan Meksiko-Amerika dan kulit putih non-Hispanik. Oleh sebab itu, hasilnya belum tentu memberikan dampak yang sama pada semua kelompok masyarakat.

Meski demikian, membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia paruh baya tetap dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan otak dan jantung ketika memasuki usia lanjut.

Kebiasaan sehat tersebut bukan jaminan seseorang akan terbebas dari demensia atau penurunan kemampuan kognitif. Namun, menerapkannya secara konsisten dapat membantu mendukung kesehatan tubuh dan kualitas hidup seiring pertambahan usia.