JAKARTA, Cobisnis.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerukan kepada warga Amerika Serikat untuk menolak kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump dan mendorong perubahan pemerintahan melalui surat terbuka.
Surat tersebut disampaikan IRGC pada Selasa (29/9/2026), sekitar lima pekan sebelum pemilu paruh waktu Amerika Serikat, dan ditujukan langsung kepada masyarakat Amerika. Reuters melaporkan surat itu terdiri dari 25 halaman dan menyerukan perubahan kebijakan Washington, terutama terkait dukungan kepada Israel dan keterlibatan dalam perang di luar negeri.
Dalam surat tersebut, IRGC meminta warga Amerika untuk "bangun" dan "merebut kembali kendali dari politisi korup".
IRGC juga menuduh pemerintahan Trump telah menyesatkan masyarakat Amerika mengenai perang, program nuklir Iran, serta kondisi Selat Hormuz.
"Ditujukan kepada rakyat Amerika Serikat yang terhormat", surat tersebut menuduh pemerintahan Trump telah menyesatkan publik Amerika terkait perang, program nuklir Iran, hingga situasi di Selat Hormuz.
IRGC turut mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Israel gagal mencapai tujuan yang mereka nyatakan dalam konflik tersebut.
"Amerika Serikat dan Israel telah menggunakan ribuan bom dan rudal, menyerang gedung-gedung pemerintah dan perumahan, puluhan fasilitas manufaktur senjata yang kurang canggih dan tingkat rendah, serta sejumlah instalasi militer yang telah dinonaktifkan," bunyi surat tersebut.
"Namun, selain merusak beberapa bangunan yang terkait dengan industri nuklir Iran dan sejumlah kecil situs pertahanan udara, mereka gagal mencapai satupun tujuan yang mereka nyatakan," imbuh dia.
Klaim tersebut merupakan versi IRGC mengenai jalannya konflik dan hasil operasi militer, sementara pihak Amerika Serikat menyampaikan posisi yang berbeda mengenai tujuan serta kondisi perang. Gedung Putih sebelumnya menyatakan Amerika Serikat mengendalikan Selat Hormuz dan menyebut arus energi melalui jalur tersebut mulai pulih.
Dalam surat itu, IRGC juga berusaha membedakan pemerintah Amerika Serikat dengan masyarakatnya serta menggambarkan kedua kelompok masyarakat sebagai pihak yang terdampak kebijakan elite politik.
"Negara Iran dan Amerika, masing-masing dengan caranya sendiri, adalah korban" dari "politisi korup" di Gedung Putih. "Kita berbagi penderitaan yang sama," demikian isi surat tersebut.
IRGC juga menjelaskan bahwa slogan "Matilah Amerika" yang kerap digunakan dalam politik Iran ditujukan kepada elite politik Amerika Serikat, bukan masyarakatnya.
"'Kematian bagi Amerika' adalah doa untuk pemberantasan elit penguasa jahat yang pusat kekuasaannya adalah Gedung Putih," bunyi surat itu.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi kemudian kembali mengkritik Trump dalam konferensi pers pada Selasa (29/9/2026).
"Saya merasa bahwa rakyat Amerika tidak menyadari kenyataan ini," kata Mohebbi kepada wartawan pada Selasa, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (30/9/2026).
"Jika mereka menyadari kenyataan ini, mereka pasti akan berpikir berbeda, dan mereka pasti akan menekan pemerintahan mereka."
Mohebbi juga membantah bahwa Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir dan menolak alasan yang dikaitkan Trump dengan konflik tersebut.
"Musuh (AS) tahu bahwa Iran tidak mengincar senjata nuklir," kata Mohebbi.
Terkait Selat Hormuz, Mohebbi membantah bahwa jalur perdagangan tersebut telah sepenuhnya terbuka meski terdapat kapal yang dapat melintas.
"Fakta bahwa Amerika mungkin berhasil, dengan biaya besar, kesulitan yang cukup besar, dan risiko tinggi, untuk menyelundupkan kapal kecil melalui Selat Hormuz di bawah kegelapan malam… tidak berarti Selat itu terbuka," kata Mohebbi.
Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan arus minyak melalui kawasan Selat Hormuz telah meningkat hingga sekitar 13,2 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, sekitar 77 persen dari tingkat sebelum perang.
Sementara itu, Trump sebelumnya menyatakan Iran telah "kalah telak" dan menolak proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.