JAKARTA, Cobisnis.com – Istana Buckingham resmi menghapus penyebutan gelar “Pembela Iman” atau Defender of the Faith dari deskripsi resmi Raja Charles III. Perubahan tersebut tercantum dalam laporan keuangan tahunan kerajaan Inggris untuk periode 2025–2026 yang dirilis pada akhir Juni 2026.
Dalam laporan terbaru, Raja Charles III kini dijelaskan sebagai Gubernur Tertinggi Gereja Inggris yang melindungi ruang bagi seluruh agama di negara yang multireligius. Kalimat tersebut menggantikan deskripsi sebelumnya yang menyebut Charles sebagai Kepala Gereja Inggris sekaligus “Pembela Iman”.
Gelar “Pembela Iman” sendiri memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak 1521. Saat itu, Paus Leo X menganugerahkan gelar tersebut kepada Raja Henry VIII karena membela ajaran Gereja Katolik dari kritik Reformasi Martin Luther.
Perubahan ini sebenarnya sejalan dengan pandangan Raja Charles yang telah disampaikan sejak masih menjadi Pangeran Wales. Pada 1994, ia pernah menyatakan lebih ingin dikenal sebagai “pembela iman” bagi semua agama dibanding hanya menjadi pembela satu keyakinan tertentu.
Ketika dinobatkan sebagai raja pada 2023, Charles tetap mengucapkan sumpah tradisional sebagai pemimpin Gereja Inggris. Namun, pengantar sumpah tersebut juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang menghormati seluruh agama dan kepercayaan di Inggris.
Keputusan ini kembali memicu perdebatan mengenai pendekatan Raja Charles terhadap isu keberagaman agama. Sebelumnya, ia sempat menuai kritik karena menyampaikan ucapan Ramadan tetapi tidak memberikan pesan Paskah secara pribadi pada 2026.
Setelah kritik bermunculan, akun resmi keluarga kerajaan akhirnya mengunggah ucapan singkat Selamat Paskah di media sosial. Meski begitu, Charles tetap tidak menyampaikan pidato khusus sebagaimana yang diharapkan sebagian kalangan Kristen di Inggris.
Perubahan deskripsi resmi tersebut muncul di tengah menurunnya tingkat dukungan terhadap monarki Inggris. Survei Ipsos terbaru menunjukkan tingkat dukungan publik terhadap institusi kerajaan berada di angka 55 persen, menjadi salah satu yang terendah dalam beberapa dekade.