Isu "Agustus Kelabu" Sengaja Digoreng untuk Ciptakan Kepanikan Publik

Oleh Hidayat Taufik pada 07 Aug 2026, 13:32 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com  - Lembaga kajian Evident Institute menemukan indikasi bahwa gelombang percakapan isu "Agustus Kelabu" yang ramai di media sosial dalam sepekan terakhir tidak tumbuh secara alami. Pola penyebarannya yang sangat cepat, ditambah tren kenaikan konten disinformasi sejak beberapa bulan sebelumnya, menunjukkan adanya pihak yang sengaja mendorong isu ini untuk memicu kepanikan dan amarah publik.

Direktur Komunitas Evident Institute Algooth Putranto menjelaskan, analisis dilakukan menggunakan mesin pemantauan *Reportica* selama periode 29 Juli hingga 5 Agustus 2026. Hasilnya, tercatat 154 percakapan publik yang menyedot 1,4 juta interaksi, dan seluruh keramaian itu hanya bersumber dari 130 akun berbeda.

"Jangkauan 1,4 juta interaksi yang dihasilkan dari jumlah akun yang relatif kecil ini patut dicermati. Ini bukan pola perbincangan publik yang tumbuh organik, melainkan ada indikasi amplifikasi yang terkoordinasi," ujar Algooth.

Pola lonjakan percakapan juga dinilai tidak wajar. Pada 31 Juli hanya tercatat dua percakapan, lalu melonjak menjadi 33 pada 1 Agustus dan mencapai puncaknya 56 percakapan pada 2 Agustus 2026, sebelum menurun menjadi 48 percakapan pada 3 Agustus dan 15 percakapan pada 4 Agustus.

"Lonjakan dari 2 percakapan menjadi 56 percakapan hanya dalam tiga hari bukan pertumbuhan yang alami. Ada sesuatu yang mendorong isu ini naik secara serentak dalam waktu sangat singkat," kata Algooth.

Platform X menjadi kanal paling ramai dengan 78 percakapan, disusul pemberitaan media daring dengan 58 percakapan. Nada perbincangan didominasi sentimen negatif sebesar 64,3 persen, dengan amarah sebagai emosi paling sering muncul (18,1 persen) disusul rasa takut (16,1 persen). Frasa "gas air mata" paling banyak disebut, muncul dalam 67 percakapan dengan nada negatif hingga 76,1 persen, disusul tagar #AgustusKelabu dengan 55 percakapan.

Temuan lebih penting, keramaian isu ini tidak berdiri sendiri. Data tren bulanan konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) yang terekam Reportica menunjukkan kenaikan mencolok. Pada Januari sampai Maret 2026 jumlah konten DFK lebih rendah dibanding periode sama tahun 2025, namun mulai April 2026 melonjak dan terus menanjak hingga Juli 2026 mendekati angka 300 konten.

"Bukan kebetulan isu ini menyebar begitu cepat dan didominasi emosi marah serta takut. Ruang digital kita sudah dipanaskan oleh konten disinformasi, fitnah, dan kebencian yang terus meningkat sejak April. Ketika suasananya sudah keruh, isu sensitif apapun akan lebih mudah digoreng dan lebih cepat viral," ujar Algooth.

"Yang paling dirugikan sebenarnya adalah masyarakat sendiri. Aspirasi yang murni jadi ditunggangi. Karena itu kami mengajak publik untuk lebih jeli, jangan mudah terpancing konten yang sengaja dirancang untuk membuat panik," katanya.

Evident Institute menilai langkah pemerintah yang terus membuka ruang dialog dan menyampaikan informasi secara transparan merupakan penyeimbang penting di tengah ruang digital yang rentan dimanipulasi.

"Situasi seperti ini hanya bisa dijawab dengan informasi yang jernih, cepat, dan konsisten. Kami melihat komitmen pemerintah ke arah itu, dan kami berharap semua pihak ikut menjaga ruang digital agar tidak dibajak oleh kepentingan yang ingin memperkeruh suasana," tutup Algooth.