JAKARTA, Cobisnis.com – Isu perubahan metodologi penghitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sentimen negatif di pasar saham Indonesia.
Wacana tersebut memicu aksi jual, khususnya pada saham-saham blue chip dan emiten konglomerasi yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.
Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menyebut spekulasi pelaku pasar menjadi faktor utama pelemahan indeks dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, investor asing dan sebagian pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi perubahan perhitungan MSCI sebelum kebijakan resmi diumumkan.
Spekulasi ini membuat tekanan terjadi pada saham-saham besar, meskipun secara fundamental kinerja emiten tersebut masih solid.
Hans menilai kekhawatiran MSCI terkait potensi manipulasi free float kurang relevan jika diterapkan pada saham-saham big cap Indonesia.
Ia menegaskan tidak ada indikasi rekayasa free float pada saham perbankan besar maupun emiten konglomerat nasional.
Kenaikan harga saham konglomerasi, menurut Hans, juga didorong oleh masuknya investor ritel, bukan karena manipulasi kepemilikan.
Hans berpandangan evaluasi MSCI seharusnya tidak mengubah aturan free float bagi saham Indonesia yang sudah masuk indeks.
Penyesuaian kriteria dinilai lebih tepat diterapkan untuk saham yang berpotensi masuk indeks pada periode berikutnya.
Ia juga menyoroti bahwa MSCI tidak menggunakan pendekatan fundamental dalam seleksi emiten Indonesia.
MSCI lebih menitikberatkan pada besaran saham beredar, tingkat free float, dan likuiditas transaksi di pasar.
Di sisi lain, MSCI diketahui tengah mengkaji penggunaan data KSEI sebagai referensi tambahan dalam menghitung free float saham.
Wacana tersebut masih bersifat konsultatif dan menunggu masukan pelaku pasar sebelum ditetapkan secara resmi.