Jateng Pastikan Aman dari Abu Krakatau

Oleh Desti Dwi Natasya pada 08 Sep 2026, 14:58 WIB

Pemprov Jawa Tengah memastikan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau belum terpantau sampai Jateng, meski warga tetap diminta waspada.

JAKARTA, CObisnis.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) belum terpantau sampai ke wilayah Jawa Tengah.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan pihaknya bersama BPBD di 35 kabupaten/kota telah melakukan penilaian di sejumlah wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat.

"Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung (abu letusan Anak Krakatau, red.) kepada masyarakat (Jawa Tengah). Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data," kata Bergas, dikutip dari berbagai sumber, Senin (07/09/2026).

Penilaian dilakukan mulai dari Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, Banyumas hingga wilayah Jawa Tengah bagian timur untuk memastikan kondisi masyarakat terdampak erupsi.

Hasil pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum mengganggu aktivitas warga di Jawa Tengah.

"Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan penghidupan masyarakat belum terjadi," ujar Bergas.

Berdasarkan penilaian lapangan dan analisis meteorologi, BPBD Jateng juga belum menemukan residu abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sampai ke wilayah tersebut.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dengan menggunakan masker ketika bepergian atau beraktivitas di luar rumah.

Bergas juga meminta BPBD di seluruh Jawa Tengah memberikan edukasi kepada masyarakat terkait antisipasi debu akibat aktivitas vulkanik maupun dampak musim kemarau.

"Kalau kita bicara di musim ini (kemarau, red.), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih," katanya.

Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo mengatakan analisis dilakukan dengan mengacu pada data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan citra satelit BMKG Himawari.

Berdasarkan analisis tersebut, angin permukaan pada ketinggian sekitar 1.500 meter bergerak dari timur ke barat.

"Jadi, kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik itu diperkirakan sampai ke Jateng, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat," katanya.

Selain pemantauan meteorologi, pengecekan empiris melalui paper test pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang juga menunjukkan hasil negatif terhadap abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Pengujian serupa dilakukan di Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, dan Cilacap dengan hasil yang sama.