Kapolri Dorong Program Pelatihan dan Penempatan Kerja bagi Pengangguran

Oleh Hidayat Taufik pada 31 Oct 2026, 10:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Polri menyiapkan langkah untuk membantu masyarakat yang belum mendapatkan pekerjaan melalui program Polisi Peduli Pengangguran atau Poliran. Program ini dirancang untuk memberikan pembekalan keterampilan sekaligus membuka akses penempatan kerja bagi warga yang membutuhkan.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkapkan rencana tersebut saat menerima kunjungan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Yandri Susanto, dikutip Sabtu (31/10/2026).

Suyudi menilai persoalan pengangguran perlu mendapat perhatian karena kondisi tersebut berpotensi berkaitan dengan munculnya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

"Kita ada kegiatan namanya Poliran, Polisi Peduli Pengangguran. Kenapa kita memiliki kepedulian terhadap pengangguran, Karena pengangguran ini berpotensi menimbulkan terjadinya gangguan kamtibmas," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Polri akan melibatkan Bhabinkamtibmas untuk menjangkau warga yang belum bekerja. Proses perekrutan juga direncanakan melibatkan pendamping desa agar informasi dan pelaksanaan program dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.

Peserta yang telah terdata nantinya akan mengikuti pelatihan sebelum diperkenalkan kepada perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Untuk mendukung proses tersebut, Polri akan membangun kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan.

"Kita akan mengaktifkan masyarakat yang pengangguran, polanya adalah dengan merekrut melalui bhabinkamtibmas kita, mungkin nanti dibantu oleh para pendamping desa," ujarnya.

"Kemudian kita latihkan, lalu kita kerjasamakan dengan Kementerian Tenaga Kerja. Kemudian kita salurkan kepada perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan, yang kita kerjasamakan dengan MOU dan PKS yang kita ikat," imbuhnya.

Tidak hanya mengandalkan pelatihan yang diselenggarakan melalui kementerian, Polri juga berencana memanfaatkan fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) di setiap provinsi. Untuk itu, koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri akan dilakukan guna mendukung pemanfaatan fasilitas tersebut.

Program Poliran juga direncanakan menyasar masyarakat yang telah menjalani rehabilitasi narkoba tetapi belum memperoleh pekerjaan. Polri akan menggandeng Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan untuk mendukung pelaksanaan program bagi kelompok tersebut.

Materi pembekalan nantinya turut mencakup kemampuan nonteknis atau soft skill. Harapannya, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan untuk bekerja, tetapi juga memiliki kesiapan untuk kembali beraktivitas dan produktif di tengah masyarakat.

"Kita latihkan secara soft skill, sehingga masyarakat kita yang pada hakikatnya berkebutuhan tadi dalam hal pekerjaan, itu bisa kembali produktif setelah dilatihkan secara soft skill tadi. Ini prinsip daripada Poliran," tuturnya.

Melalui inisiatif ini, Suyudi berharap masyarakat yang belum bekerja, termasuk mereka yang membutuhkan pendampingan setelah rehabilitasi, dapat memperoleh kesempatan untuk masuk ke dunia kerja.

Menurutnya, peningkatan produktivitas masyarakat diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menekan angka kriminalitas serta menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.

"Harapannya bagaimana masyarakat kita yang pengangguran, termasuk yang berkebutuhan karena pascarehabilitasi belum mendapat pekerjaan, ini bisa dipekerjakan sehingga bisa produktif, sehingga angka kriminalitas bisa menurun, situasi kamtibmas bisa kondusif. Itu semangatnya," ujarnya.