Kasus Hantavirus Jadi Perhatian, Kemenkes Minta Warga Tetap Tenang

Oleh Hidayat Taufik pada 12 May 2026, 10:58 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian Kesehatan meminta masyarakat tetap tenang menghadapi isu hantavirus. Namun, warga tetap harus waspada terhadap risiko penularannya.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan Indonesia belum menemukan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS). Selain itu, pemerintah terus memperkuat sistem deteksi dini.

Andi menilai peningkatan laporan kasus menunjukkan sistem pengawasan kesehatan berjalan lebih baik. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik menghadapi situasi ini.

Kemenkes menjelaskan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius berasal dari strain Andes virus. Dalam beberapa penelitian, virus tersebut dapat menular lewat kontak erat dalam waktu lama.

Sementara itu, kasus hantavirus di Asia, termasuk Indonesia, berbeda dengan tipe di kapal pesiar tersebut. Hingga kini, peneliti belum menemukan bukti penularan antarmanusia pada tipe HFRS.

Virus hanta umumnya menyebar melalui kontak dengan tikus yang terinfeksi. Selain itu, urine, air liur, dan kotoran tikus juga dapat menjadi media penularan.

Risiko penularan meningkat di area dengan populasi tikus tinggi. Misalnya, gudang tertutup, daerah banjir, dan bangunan lama.

Kegiatan luar ruang juga berpotensi meningkatkan risiko paparan. Karena itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan selama berkemah atau mendaki.

Kemenkes juga meminta kontak erat kasus hantavirus menjalani observasi mandiri. Selain itu, mereka sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah.

Pemerintah mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan setiap hari. Masyarakat juga perlu menyimpan makanan di tempat tertutup dan menghindari kontak langsung dengan tikus.

Jika mengalami demam, batuk, nyeri tubuh, atau sesak napas, warga sebaiknya segera memeriksakan diri. Dengan begitu, tenaga kesehatan dapat melakukan penanganan lebih cepat.

Sebelumnya, WHO menegaskan wabah hantavirus di kapal pesiar bukan awal pandemi baru. Organisasi tersebut juga menyebut pola penyebaran virus berbeda jauh dari Covid-19.