Kisah ABK di Tengah Perang: Drone Menyerang, Rudal Terbang Setiap Hari di Selat Hormuz

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 16 Mar 2026, 19:15 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal China mengungkap situasi mencekam di perairan Selat Hormuz setelah jalur pelayaran tersebut ditutup hampir dua pekan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pelaut bernama Wang Shang (32) mengatakan bahwa setiap hari ia melihat peluncuran rudal dan mendengar ledakan di sekitar kapal tempatnya bekerja. Situasi tersebut membuat para kru hidup dalam ketakutan di tengah aktivitas militer yang semakin intens.

Wang merupakan ABK yang bekerja di kapal asing pengangkut gas minyak cair dari kawasan Teluk. Namun sejak konflik pecah pada akhir Februari, kapal yang ia tumpangi tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut karena jalur pelayaran utama diblokade.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati selat sempit tersebut sebelum dikirim ke pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika.

Konflik yang meletus pada 28 Februari setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran membuat aktivitas pelayaran di kawasan tersebut hampir berhenti total. Banyak kapal terpaksa bertahan di perairan Teluk tanpa kepastian kapan jalur pelayaran kembali dibuka.

Wang mengaku situasi di laut sangat berbahaya karena meningkatnya aktivitas militer di sekitar wilayah tersebut. Ia bahkan menyaksikan langsung serangan drone yang terjadi sangat dekat dengan kapalnya.

Menurutnya, sebuah kapal kontainer bernama Source Blessing yang berlayar tidak jauh dari posisinya sempat diserang sebelum matahari terbit. Serangan itu terjadi hanya sekitar dua mil laut dari kapal tempat ia bekerja.

Wang merekam kondisi kapal tersebut setelah kejadian itu dan melihat asap hitam masih mengepul dari salah satu sisi lambung kapal. Insiden tersebut semakin memperkuat kekhawatiran para pelaut yang berada di wilayah konflik.

Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd yang mengoperasikan kapal tersebut mengatakan bahwa kebakaran terjadi setelah kapal terkena pecahan amunisi. Meski demikian, perusahaan memastikan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

Menurut juru bicara perusahaan, hingga kini belum diketahui secara pasti apakah pecahan tersebut berasal dari roket, drone, atau jenis amunisi lainnya. Situasi perang yang berlangsung di sekitar wilayah itu membuat penyebab pasti insiden sulit dipastikan.

Di tengah kondisi berbahaya tersebut, para kru kapal juga menghadapi ketidakpastian mengenai kompensasi kerja. Wang mengaku mendengar bahwa beberapa pelaut di kapal lain mendapatkan bonus tambahan selama krisis berlangsung.

Namun di kapalnya sendiri belum ada kepastian mengenai insentif tersebut. Ia bahkan mendengar bahwa bonus yang diberikan hanya sekitar 700 dollar AS atau sekitar Rp 11,8 juta.

Bagi Wang, jumlah tersebut tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi para pelaut setiap hari. Mereka harus bekerja di tengah ancaman serangan drone, rudal, dan meningkatnya ketegangan militer di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.