Krisis BBM Palangka Raya Makin Parah, Pertalite Eceran Tembus Rp 20.000 per Liter

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 08 May 2026, 11:48 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kelangkaan BBM di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, makin memprihatinkan pada Jumat, 8 Mei 2026. Antrean panjang di SPBU tidak hanya picu kemacetan, tapi juga mulai lumpuhkan produktivitas warga yang terpaksa bolos kerja demi dapat bensin.

Hendri, 56 tahun, karyawan swasta, mengaku harus relakan waktu kantornya demi antre Pertamax di SPBU Jalan Imam Bonjol. Ia keluhkan lambatnya respons pemerintah dalam tangani krisis yang sudah berlangsung dua minggu.

Kondisi makin berat bagi warga menengah ke bawah. Heri Maulana, 40 tahun, sudah habiskan dua jam antre di SPBU Jalan Tjilik Riwut Km 2 tanpa kepastian dapat BBM.

Di pedagang eceran, stok Pertalite sering kosong. Kalaupun ada, harganya melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp 20.000 per liter dari harga normal sekitar Rp 13.000.

Antrean kendaraan sudah meluber ke badan jalan dan ganggu arus lalu lintas. Di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, antrean memanjang dari simpang Jalan Garuda hingga area SPBU.

Di Jalan S. Parman, kendaraan pengantre makan hingga seperempat badan jalan. Di Jalan Imam Bonjol, ekor antrean capai pertigaan lampu merah di seberang Markas Kodam XXI Tambun Bungai.

Yang bikin warga makin geram, kelangkaan ini seolah hanya terjadi di Palangka Raya. Hendri bandingkan situasi ini dengan Banjarmasin yang dilaporkan normal dan tidak ada antrean berarti.

Warga nilai pemerintah terlalu lambat respons situasi yang sudah berlangsung berminggu-minggu. Tuntutan agar pemerintah daerah segera turun tangan terus menguat dari berbagai kalangan.

Gubernur Kalteng sebelumnya singgung kemungkinan adanya permainan dari orang dalam maupun luar yang perparah kelangkaan. Namun hingga kini belum ada langkah konkret yang dirasakan warga di lapangan.

Warga Palangka Raya masih nantikan tindakan nyata dari pemerintah untuk urai antrean dan pulihkan pasokan BBM. Setiap hari tanpa solusi berarti satu hari lagi waktu dan produktivitas warga terbuang di pinggir SPBU.