JAKARTA, Cobisnis.com – Rupiah yang melemah hingga menyentuh Rp 17.300 per dolar AS mendorong pelaku usaha untuk menggenjot ekspor sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai peningkatan ekspor menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Semua sektor, baik migas maupun non-migas, didorong untuk menghasilkan devisa.
Menurutnya, kondisi global saat ini memang tidak sepenuhnya mendukung. Permintaan komoditas di pasar internasional belum stabil, namun akses ekspor tetap harus dibuka lebar.
Ia menegaskan bahwa setiap peluang yang bisa menghasilkan devisa perlu dimanfaatkan. Dalam situasi tekanan seperti sekarang, fleksibilitas kebijakan ekspor menjadi kunci.
Pelemahan rupiah tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama berasal dari tingginya kebutuhan transaksi global menggunakan dolar AS, terutama di sektor energi.
Direktur Insight Kadin Institute Fakhrul Fulvian menyebut kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar permintaan dolar. Hal ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat.
Sebagian besar transaksi minyak, khususnya di kawasan Timur Tengah, menggunakan sistem petrodollar. Kondisi ini membuat negara-negara harus menyediakan dolar dalam jumlah besar.
Lonjakan permintaan dolar yang tidak biasa ini memperburuk nilai tukar rupiah. Situasi tersebut diperparah oleh ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.
Di sisi lain, indikator ekonomi menunjukkan rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya. Hal ini terlihat dari pendekatan Real Effective Exchange Rate (REER) yang menunjukkan kondisi undervalued.
Pelemahan ini membawa dampak langsung pada ekonomi domestik. Biaya impor meningkat, sementara tekanan inflasi berpotensi melebar jika kondisi berlanjut.
Meski demikian, peluang tetap terbuka. Pelemahan rupiah justru bisa membuat produk ekspor Indonesia lebih kompetitif di pasar global.
Ke depan, keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan peningkatan ekspor akan menjadi tantangan utama. Pemerintah dan pelaku usaha dituntut bergerak cepat dan adaptif menghadapi dinamika global.