Legenda Bura, Pendekar Kebal Senjata yang Ditakuti Belanda

Oleh Hidayat Taufik pada 06 Apr 2026, 15:46 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Jember, Jawa Timur memiliki banyak tokoh pejuang yang dikenal luas. Dua di antaranya adalah Moch Sroeji dan dr. Soebandi,Namun demikian, masyarakat juga mengenal sosok lain bernama Bura.

Kisahnya hidup kuat dalam ingatan warga, meski tidak tercatat resmi,Bura berasal dari Desa Jatian, Kecamatan Pakusari. Wilayah ini berada di bagian utara Kabupaten Jember.

Sejak awal, warga mengenalnya sebagai pendekar dengan kemampuan kanuragan tinggi. Ia dikenal berani menghadapi penjajah Belanda.

Selain itu Bura aktif dalam perjuangan rakyat di tingkat lokal. Ia memimpin kelompok laskar rakyat di beberapa wilayah, seperti Kalisat, Mayang, dan Ledokombo.

Sementara itu, ia hidup pada masa yang sama dengan Moch Sroeji. Namun, perannya lebih fokus menjaga wilayah pedalaman.

Ketika pasukan utama melakukan perpindahan strategi, Bura tetap bertahan. Ia menjaga desa dari serangan dan tekanan penjajah.

Karena aktivitasnya, Belanda terus memburu Bura. Akan tetapi, ia dikenal sulit ditangkap dan sering muncul dalam serangan mendadak.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Bura juga kerap bergerak sendiri. Ia menyerang pos penjajah secara sporadis untuk melemahkan kekuatan musuh.

Di sisi lain, Belanda kemudian mengubah strategi. Mereka menyandera keluarga Bura untuk mendapatkan informasi.Selain itu, mereka juga menempatkan mata-mata di lingkungan laskar rakyat.

Akhirnya, upaya tersebut berhasil menangkapnya.

Setelah penangkapan, Belanda memperlakukan Bura secara tidak manusiawi. Mereka mengaraknya ke sejumlah desa sebagai bentuk tekanan psikologis kepada rakyat.

Bahkan, ia diborgol dan dipertontonkan tanpa pakaian. Tujuannya untuk melemahkan semangat perlawanan warga.

Kemudian, di wilayah Desa Jatian, Bura dieksekusi. Ia dibakar hidup-hidup di tepi sungai oleh pasukan Belanda.

Setelah itu, abu jasadnya dibuang ke sungai. Tindakan tersebut menjadi simbol kekejaman penjajah terhadap pejuang rakyat.

Peristiwa ini menjadi akhir perjuangan Bura. Meski begitu, warga tetap mengenang jasanya hingga kini.

Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat kemudian mendirikan monumen di lokasi kejadian. Monumen tersebut dikenal sebagai Monumen Pahlawan Bura.

Hingga kini, kisah Bura terus diwariskan secara lisan. Oleh sebab itu, perannya menjadi bagian penting dari sejarah lokal Jember.

Namun demikian, minimnya catatan tertulis membuat kisah ini terancam hilang. Seiring waktu, saksi hidup yang mengetahui cerita tersebut semakin berkurang.

Karena itu, sejumlah warga berharap kisah Bura dapat didokumentasikan. Dengan begitu, generasi mendatang tetap mengenal perjuangannya.