Mendagri Beri Kelonggaran WFH untuk ASN Terdampak Erupsi

Oleh Hidayat Taufik pada 07 Sep 2026, 08:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di daerah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menjalankan tugas dari rumah atau work from home (WFH).

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan menyesuaikan pola kerja ASN dengan situasi di wilayah masing-masing. Penerapan WFH tetap perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan pemerintahan.

Menurut Tito, sektor pelayanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar warga harus tetap berjalan. Layanan kesehatan, pemadam kebakaran, dan kelistrikan termasuk bidang yang harus dipastikan tetap beroperasi.

"Kalau pemerintah daerah, kabupaten/kota melihat bahwa aspek kesehatan dan keamanan di daerah itu bagi masyarakat, termasuk ASN, bisa terganggu, maka WFH bisa dilakukan sebagian, misalnya 50 persen," kata Tito, dikutip dari berbagai sumber, Senin (7/9/26).

Sementara itu, instansi pemerintahan yang memiliki keterbatasan interaksi langsung dengan masyarakat dapat menerapkan WFH dengan jumlah pegawai lebih banyak. Porsinya dapat mencapai 75 persen sesuai kondisi daerah.

Tito mengatakan koordinasi telah dilakukan dengan sejumlah kepala daerah untuk membahas kondisi wilayah masing-masing setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Beberapa daerah yang masuk dalam pemantauan antara lain Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan.

Koordinasi tersebut dilakukan seiring pemerintah memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemerintah ingin memastikan setiap daerah dapat mengambil langkah yang tepat apabila dampak erupsi berpotensi mengganggu keselamatan atau kesehatan warga.

"Kita melakukan komunikasi terus-menerus, dengan sekali lagi tujuannya untuk mengetahui seberapa berbahaya atau rawan terhadap kesehatan masyarakat atau keamanan masyarakat di berbagai sektor, termasuk administrasi pemerintahan," ujarnya.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9). Dampak dari aktivitas tersebut berupa abu vulkanik yang terbawa angin hingga mencapai sejumlah wilayah.

Wilayah yang dilaporkan terdampak meliputi Lampung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Material abu juga menyebar ke sejumlah kawasan perairan di sekitar wilayah tersebut.

BMKG melakukan pemantauan pergerakan abu dengan menggunakan informasi dari PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9.

Hasil pemantauan menunjukkan abu vulkanik bergerak dalam dua jalur penyebaran. Arah pertama bergerak dari timur laut menuju selatan dan berdampak pada sebagian wilayah Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.

Selain wilayah daratan, abu pada jalur tersebut juga menyebar ke perairan di sekitarnya.

Sementara jalur penyebaran kedua mengarah dari barat daya menuju barat laut. Area yang terdampak mencakup sebagian Banten, Lampung, dan Bengkulu.

Material vulkanik juga terpantau berada di kawasan selatan Selat Sunda serta perairan Samudra Hindia di sisi barat Banten, Lampung, dan Bengkulu.