JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata sekaligus memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Kajian dalam buku tersebut memperkirakan dampak ekonomi penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 mencapai sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.
Bappenas menyebut temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan kebijakan pariwisata olahraga atau sport tourism dan industri olahraga nasional. Kajian resmi Bappenas juga menempatkan sport tourism sebagai instrumen strategis dalam penguatan ekonomi berbasis pengalaman serta mengulas dampak ekonomi, penciptaan lapangan kerja, UMKM, investasi, dan branding Indonesia.
Buku tersebut merupakan hasil kajian Kementerian PPN/Bappenas bersama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA), bagian dari Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
Penyusunan kajian dilakukan secara kolaboratif bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Sekretariat Negara, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bank Indonesia.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan penyelenggaraan MotoGP Mandalika memberikan pembelajaran mengenai pentingnya membangun ekosistem industri olahraga yang terintegrasi.
“Pembelajaran dari MotoGP Mandalika menunjukkan pentingnya pengembangan ekosistem industri olahraga yang terpadu. Potensi industri olahraga belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah, investasi, dan lapangan kerja di dalam negeri. Ekosistemnya masih terfragmentasi, mulai dari data, produk, industri, dan sumber daya manusia hingga pemanfaatan infrastruktur olahraga,” ujar Rachmat.
Estimasi dampak ekonomi tersebut mencakup dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan (induced impact).
MotoGP Mandalika juga disebut mendukung terciptanya puluhan ribu kesempatan kerja pada tahap persiapan dan penyelenggaraan. Manfaatnya dirasakan sejumlah sektor, mulai dari pariwisata, UMKM, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif hingga masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dari sisi promosi, eksposur media global menghasilkan Advertising Value Equivalency (AVE) sebesar 361,6 juta euro atau sekitar Rp6,9 triliun. Nilai tersebut mencerminkan nilai promosi Indonesia dan Mandalika melalui eksposur global.
Kementerian PPN/Bappenas dan ITDC juga melakukan survei selama MotoGP Mandalika 2025 yang melibatkan lebih dari 1.800 responden, terdiri atas penonton domestik, wisatawan mancanegara, pelaku UMKM, tenaga kerja, dan sponsor.
Hasil survei mencatat skor pengalaman penonton atau brand equity mencapai 5,07 dari skala 6. Kajian tersebut juga memperkirakan peningkatan eksposur Mandalika berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan sekitar 11% apabila didukung promosi destinasi yang terintegrasi.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan penyelenggaraan MotoGP Mandalika menunjukkan keterkaitan antara event olahraga internasional dan pengembangan pariwisata.
“MotoGP Mandalika telah memperlihatkan bagaimana sebuah event olahraga kelas dunia mampu memperkuat daya tarik destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta menggerakkan ekonomi lokal. Sinergi sektor pariwisata dengan olahraga akan terus diperkuat sebagai bagian dari pengembangan sport tourism Indonesia,” jelas Widiyanti.
Dorong Ekonomi Lokal
Dampak terhadap ekonomi lokal juga terlihat dari keterlibatan UMKM, aktivitas usaha, dan penciptaan kesempatan kerja.
Hasil survei mencatat tingkat kepuasan tenaga kerja dan relawan sebesar 5,51 dari skala 6. Sementara itu, tingkat kepuasan keseluruhan pelaku UMKM dan tenant mencapai 5,23.
Dukungan Pemerintah Provinsi NTB serta pemerintah kabupaten dan kota turut menunjang penyelenggaraan MotoGP Mandalika melalui anggaran penyelenggaraan, promosi pariwisata, pelayanan kesehatan, pengamanan, peningkatan infrastruktur, dan berbagai kegiatan pendukung.
Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri turut hadir dalam rangkaian acara tersebut. Bagi Pemerintah Provinsi NTB, Mandalika dipandang sebagai aset strategis daerah dengan keberhasilan MotoGP tidak hanya diukur dari jumlah penonton, tetapi juga penguatan citra Mandalika, kualitas pengalaman wisatawan, dan kontribusi terhadap perekonomian daerah secara berkelanjutan.
Plt. Direktur Utama ITDC Ahmad Fajar mengatakan penyelenggaraan MotoGP perlu diarahkan agar memberikan dampak jangka panjang bagi kawasan Mandalika.
“MotoGP Mandalika menunjukkan bahwa event olahraga internasional dapat menjadi katalis bagi pengembangan kawasan secara berkelanjutan. Bagi ITDC, momentum ini perlu ditransformasikan dari sekadar event-based economy menjadi event-led development, sehingga manfaat ekonomi, sosial, dan pembangunan kawasan dapat terus dirasakan dalam jangka panjang. Dengan pengalaman lebih dari 52 tahun, ITDC terus memperkuat perannya sebagai Master Developer dan Asset Manager melalui pengembangan infrastruktur, fasilitas, dan layanan yang terintegrasi, serta kolaborasi strategis dengan pelaku industri dan masyarakat di sekitar kawasan. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen ITDC untuk memperkuat The Mandalika sebagai destinasi sport tourism berkelas dunia yang memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi kawasan dan masyarakat,” ujar Ahmad.
Sebagai informasi, ITDC juga sebelumnya melaporkan hasil studi berbeda yang memperkirakan dampak ekonomi nasional MotoGP Mandalika 2025 sebesar Rp4,96 triliun, dengan lebih dari 600 UMKM terlibat dan lebih dari 3.000 tenaga kerja terserap.
Bappenas Susun Desain Besar Industri Olahraga
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Kementerian PPN/Bappenas mulai menyusun Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional.
Dokumen tersebut akan menjadi acuan bersama untuk menetapkan arah, fokus, target, dan pembagian peran lintas sektor dalam pengembangan industri olahraga nasional.
“Kementerian PPN/Bappenas memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional sebagai acuan bersama yang menetapkan arah, fokus, target, serta pembagian peran lintas sektor,” ujar Rachmat.
Desain besar tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri olahraga yang berkelanjutan melalui penguatan koordinasi pemerintah pusat dan daerah, pembagian peran pemangku kepentingan, serta peningkatan pemantauan dan evaluasi.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengatakan pengembangan industri olahraga membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Pengembangan industri olahraga harus menjadi gerakan bersama. Prestasi olahraga, industri olahraga, dan penyelenggaraan event internasional saling memperkuat. Kolaborasi lintas kementerian menjadi fondasi agar Indonesia semakin mampu menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga dunia yang profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Erick.
Pemerintah berharap kajian MotoGP Mandalika 2025 dapat menjadi dasar kebijakan pengembangan sport tourism dan industri olahraga sekaligus mendukung target pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029.
“Pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan hanya semakin banyak event olahraga, tetapi ekosistem industri olahraga Indonesia yang semakin kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,” pungkas Rachmat.