Outlook Kredit RI Negatif, IHSG Nyungseb

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 06 Feb 2026, 09:33 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi usai Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Tekanan langsung terasa sejak awal perdagangan. IHSG bergerak di zona merah dan turun ke level 7.900-an, mencerminkan respons pasar terhadap sentimen global yang memburuk.

Berdasarkan data RTI, pada pukul 09.05 WIB IHSG berada di level 7.930 atau melemah 173 poin setara 2,14 persen. Posisi ini lebih rendah dibandingkan pembukaan di level 7.945.

Sepanjang perdagangan pagi, IHSG bergerak pada rentang terendah 7.888 dan tertinggi 7.945. Pelemahan terjadi hampir merata di berbagai sektor.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp2,33 triliun dengan volume perdagangan 5,06 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 254.532 kali.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 63 saham yang menguat. Sementara itu, 543 saham melemah dan 82 saham stagnan, menunjukkan tekanan jual yang dominan.

Secara mingguan, IHSG tercatat melemah sekitar 5 persen. Dalam sebulan terakhir, pelemahan bahkan mencapai 11,34 persen, menandakan tren koreksi yang cukup dalam.

Untuk periode tiga bulanan, IHSG juga masih terkoreksi 3,07 persen. Meski demikian, secara enam bulanan indeks masih mencatat kenaikan 4,81 persen.

Dalam jangka tahunan, IHSG masih tumbuh 10,47 persen. Namun sentimen jangka pendek dinilai menjadi faktor utama yang menekan pergerakan pasar saat ini.

Sebelumnya, Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski begitu, peringkat utang jangka panjang Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2.

Moody’s menilai ekonomi Indonesia masih didukung pertumbuhan yang relatif stabil, sumber daya alam yang kuat, serta bonus demografi yang menopang prospek jangka menengah.

Namun revisi outlook dipicu oleh meningkatnya risiko ketidakpastian kebijakan. Jika kondisi ini berlanjut, Moody’s menilai dapat berdampak pada kinerja perekonomian dan kepercayaan investor.