Pakar UI Ungkap Kenapa Perempuan Paling Rentan Jadi Korban di Lingkungan Kerja Toxic

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 30 May 2026, 06:13 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Perempuan yang bekerja di lingkungan kerja toxic dan maskulin disebut lebih rentan menjadi korban pelecehan verbal dibandingkan rekan kerja laki-laki. Hal ini disampaikan Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Indonesia, Padang Wicaksono, pada Jumat, 29 Mei 2026.

Padang menjelaskan bahwa dalam lingkungan kerja yang tidak menjunjung kesetaraan, perempuan sering menjadi target stereotip gender yang sudah mengakar. Pelecehan verbal kerap dinormalisasi sebagai candaan atau gaya komunikasi.

Ia menegaskan bahwa tanpa kebijakan zero tolerance terhadap pelecehan, kasus serupa akan terus berulang. Menurutnya, ketiadaan aturan internal yang tegas menjadi akar masalah utama.

Kondisi perempuan juga diperburuk oleh beban ganda di luar pekerjaan. Banyak pekerja perempuan, terutama dari kelompok sandwich generation, memilih diam karena ketergantungan ekonomi.

Padang menyebut toxic boss sering memanfaatkan situasi ini untuk mempertahankan kontrol. Hal ini membuat korban enggan melapor meski mengalami perlakuan tidak layak.

Ia juga menyoroti lemahnya SOP dan etika kerja di banyak perusahaan. Tanpa panduan yang jelas, supervisor berpotensi menyalahgunakan wewenang terhadap bawahan.

Masalah semakin kompleks di sektor informal yang minim perlindungan hukum. Banyak pekerja perempuan di sektor ini belum mendapatkan perlindungan yang memadai dari regulasi yang ada.

Sebagai solusi, Padang mendorong adanya kewajiban panduan etika kerja dan protokol anti-pelecehan sebagai syarat izin usaha. Ia menilai tanpa itu, masalah akan terus berulang di berbagai sektor.