JAKARTA, Cobisnis.com – Jumlah personel militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kini telah melampaui 50.000 orang, setelah penambahan sekitar 5.000 pasukan yang terdiri dari marinir dan pelaut dalam beberapa waktu terakhir. Angka ini meningkat sekitar 10.000 personel dibandingkan jumlah normal dalam kondisi rutin.
Peningkatan signifikan ini terjadi di tengah rencana pemerintahan Presiden Donald Trump yang dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi operasi darat terhadap Iran. Berdasarkan laporan media internasional, serangan skala besar sedang dikaji, termasuk kemungkinan penguasaan wilayah atau pulau strategis milik Iran.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Washington untuk menekan Teheran agar membuka kembali jalur vital Selat Hormuz yang sebelumnya diblokade.
Dalam kondisi normal, sekitar 40.000 tentara AS ditempatkan di berbagai pangkalan di Timur Tengah, mencakup negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, Irak, Suriah, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Namun, meningkatnya ketegangan kawasan membuat jumlah tersebut bertambah secara signifikan.
Jumlah itu belum termasuk sekitar 4.500 personel yang berada di kapal induk USS Gerald R. Ford, yang sebelumnya beroperasi di kawasan sebelum akhirnya ditarik akibat sejumlah insiden, termasuk kebakaran di dalam kapal.
Selain itu, Pentagon juga telah mengerahkan sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan tersebut. Pasukan ini disiapkan untuk memberikan opsi militer tambahan, meskipun lokasi penempatannya tidak diungkap ke publik.
Pasukan terjun payung tersebut berpotensi digunakan untuk merebut Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran di Teluk Persia. Wilayah ini sebelumnya telah menjadi target serangan udara AS yang menghantam puluhan sasaran militer.
Dalam skenario eskalasi konflik yang lebih luas, pasukan tersebut juga dapat dikerahkan dalam operasi darat bersama marinir.