JAKARTA, Cobisnis.com – Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras kepada Iran dengan menuntut agar Selat Hormuz tetap terbuka untuk perdagangan global.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat sedang menjalani komunikasi serius dengan kepemimpinan baru Iran. Ia menilai pihak tersebut lebih rasional dalam merespons situasi.
Namun, nada tersebut tidak berlangsung lama. Trump langsung memberikan ultimatum tegas terkait akses Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Ia menegaskan bahwa jalur tersebut harus segera dinyatakan terbuka penuh. Jika tidak, AS mengancam akan mengambil langkah militer yang jauh lebih agresif.
Trump bahkan menyebut target spesifik yang akan diserang. Infrastruktur energi seperti pembangkit listrik, sumur minyak, hingga Pulau Kharg disebut masuk dalam daftar sasaran.
Pulau Kharg sendiri dikenal sebagai pusat utama ekspor minyak Iran. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu guncangan besar pada pasokan energi global.
Selain itu, fasilitas desalinasi air laut juga disebut sebagai target tambahan. Infrastruktur ini sebelumnya tidak menjadi sasaran dalam konflik sebelumnya.
Trump menyatakan langkah tersebut sebagai bentuk balasan atas korban dari pihak Amerika. Ia juga menyinggung konflik panjang antara AS dan Iran selama puluhan tahun.
Di sisi lain, Trump mengklaim negosiasi masih berjalan. Ia bahkan menyebut ada pengiriman puluhan kapal tanker minyak sebagai bagian dari dinamika komunikasi kedua pihak.
Dalam pernyataannya, disebutkan total 30 kapal tanker akan bergerak melalui Selat Hormuz. Angka ini menunjukkan besarnya tekanan ekonomi yang sedang dimainkan.
Meski ada sinyal kesepakatan, situasi tetap belum pasti. Pasar global kini bersiaga terhadap potensi konflik yang bisa memicu lonjakan harga energi.
Ketegangan ini juga memperlihatkan betapa strategisnya Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta geopolitik dunia.