JAKARTA, Cobisnis.com – Gelombang kebangkrutan perusahaan di Jepang terus meningkat sepanjang semester pertama 2026. Lembaga riset Teikoku Databank mencatat sebanyak 5.346 perusahaan gulung tikar pada periode Januari hingga Juni, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Beban utang menjadi salah satu faktor utama yang memicu meningkatnya jumlah kebangkrutan tersebut. Banyak perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman di tengah kenaikan biaya operasional dan perlambatan aktivitas ekonomi.
Data Teikoku Databank menunjukkan sektor usaha kecil dan menengah menjadi kelompok yang paling terdampak. Perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi tekanan dari meningkatnya harga bahan baku, biaya energi, serta kenaikan upah tenaga kerja.
Selain itu, tingginya suku bunga dan melemahnya nilai tukar yen turut memperbesar beban keuangan dunia usaha. Kondisi tersebut membuat biaya impor meningkat sehingga margin keuntungan perusahaan semakin tertekan.
Para analis menilai berakhirnya berbagai program bantuan yang sebelumnya diberikan pemerintah selama masa pandemi juga ikut memperburuk situasi. Banyak perusahaan yang selama ini bertahan berkat restrukturisasi utang kini mulai menghadapi jatuh tempo pembayaran pinjaman.
Meski sektor pariwisata menunjukkan pemulihan, permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih membuat sebagian pelaku usaha masih kesulitan meningkatkan pendapatan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh bisnis ritel, manufaktur, dan jasa berskala kecil.
Teikoku Databank memperkirakan tren kebangkrutan masih berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026 apabila tekanan biaya dan beban utang belum mereda. Perusahaan dengan kondisi keuangan yang lemah diperkirakan menjadi kelompok paling rentan menghadapi perlambatan ekonomi.
Pemerintah Jepang pun diharapkan terus mendorong kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dan membantu dunia usaha beradaptasi dengan kondisi pasar. Dukungan terhadap sektor usaha kecil dan menengah dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan laju kebangkrutan di masa mendatang.