Ringgit Malaysia Naik 3,05% ke Rp4.421, Rupiah Masih Tertekan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 22 Oct 2026, 11:10 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Nilai tukar rupiah melemah terhadap sejumlah mata uang regional pada Kamis (22/10/2026). Dolar Singapura menguat hingga Rp14.131,70, sedangkan ringgit Malaysia mencapai Rp4.421.

Berdasarkan data Investing, dolar Singapura menguat 0,10% atau 13,74 poin terhadap rupiah. Mata uang tersebut dibuka pada level Rp14.117,96 dan diperkirakan bergerak di kisaran Rp14.084,99 hingga Rp14.133,11 sampai penutupan perdagangan.

Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 3,05% terhadap rupiah pada perdagangan pagi. Secara bulanan, ringgit tercatat naik 0,88%, sedangkan secara mingguan menguat 0,70%.

Tekanan terhadap rupiah juga terlihat dari pergerakannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pukul 10.25 WIB, dolar AS berada di level Rp18.047.

Mengacu pada data Bloomberg, dolar AS menguat 25 poin atau 0,14% terhadap rupiah. Pada pembukaan perdagangan, dolar AS naik 0,09% ke level Rp18.039, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.022.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Di antaranya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham.

Destry menyampaikan bahwa pada 20 Oktober 2026, rupiah berada di level Rp17.985 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,61% dibandingkan akhir September 2026.

Meski menghadapi tekanan eksternal, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral akan mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter untuk meredam tekanan terhadap mata uang domestik.

BI juga berencana memperkuat insentif guna mendorong masuknya investasi portofolio asing. Selain itu, pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing akan dipercepat untuk memperkuat ketahanan pasar keuangan.

Pergerakan dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dolar AS menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah sentimen global. Perkembangan nilai tukar selanjutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi valuta asing.