Rupiah Tertekan, Ditutup di Level Rp17.547 per Dolar AS

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 10 Sep 2026, 16:33 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.547 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 10 September 2026 sore. Rupiah melemah 36 poin atau 0,21% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah terjadi saat mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,01% dan dolar Hong Kong naik 0,01%.

Di sisi lain, peso Filipina melemah 0,05%, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,09%, dolar Singapura melemah 0,03%, yen Jepang turun 0,02%, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,13%.

Pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi. Poundsterling Inggris menguat 0,05%, euro Eropa naik 0,03%, dolar Kanada menguat 0,01%, sedangkan franc Swiss naik 0,01%.

Sementara itu, dolar Australia terkoreksi 0,07% terhadap dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap sejumlah mata uang masih terjadi di tengah dinamika pasar global.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah dan mayoritas mata uang Asia cenderung tertekan oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

"Rupiah dan mayoritas mata uang Asia umumnya melemah terhadap dolar AS, di tengah kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.

Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah juga datang dari aksi ambil untung atau profit taking. Investor mengambil keuntungan setelah pergerakan sebelumnya, sehingga turut memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda.

Namun, ada faktor yang membantu menahan pelemahan rupiah. Penjualan ritel pada Juli tercatat menguat setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama dua bulan berturut turut.

"Rupiah juga tertekan oleh aksi profit taking, meski penjualan ritel bulan Juli berhasil rebound setelah mengalami kontraksi selama dua bulan berturut turut, sedikit banyak membantu menahan pelemahan yang lebih besar," ujar Lukman.

Pergerakan rupiah sore ini menunjukkan sentimen eksternal masih menjadi salah satu perhatian pasar. Kekhawatiran konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah turut membayangi pergerakan mata uang Asia.

Di tengah tekanan tersebut, penguatan penjualan ritel domestik menjadi salah satu faktor yang membantu membatasi pelemahan rupiah. Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan sentimen global dan kondisi ekonomi domestik.