JAKARTA, Cobisnis.com - Pelajar Iran yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri menghadapi kendala baru setelah penyelenggaraan ujian TOEFL dan GRE di dalam negeri dihentikan akibat perubahan aturan sanksi Amerika Serikat (AS).
Educational Testing Service (ETS), organisasi berbasis AS yang menyelenggarakan kedua ujian tersebut, menghentikan layanan setelah Office of Foreign Assets Control (OFAC) Departemen Keuangan AS membekukan General License G.
"Setelah OFAC menangguhkan General License G, ETS segera menghentikan penyelenggaraan ujian TOEFL dan GRE di Iran," kata ETS dalam pemberitahuan resminya, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (04/09/2026).
ETS menyebut warga negara Iran masih dapat mengikuti ujian tersebut di luar negeri dan pihaknya tengah mencari cara agar pelaksanaan tes dapat kembali dilakukan di Iran.
TOEFL merupakan tes kemampuan bahasa Inggris yang digunakan oleh universitas di berbagai negara, sedangkan GRE menjadi salah satu persyaratan bagi sejumlah program pascasarjana, terutama di Amerika Serikat dan Kanada.
Penghentian ujian membuat calon mahasiswa yang sedang mengejar tenggat pendaftaran universitas maupun beasiswa menghadapi ketidakpastian, terutama mereka yang telah menghabiskan waktu dan biaya untuk mempersiapkan pendaftaran.
Masalah serupa sebelumnya terjadi pada penyelenggaraan IELTS di Iran, sehingga sebagian pelamar harus bepergian ke negara seperti Turki dan Armenia untuk mengikuti tes.
Alireza, pelamar universitas di Italia, mengatakan penghentian TOEFL mengganggu rencana yang sebelumnya disiapkan setelah IELTS tidak lagi tersedia di Iran.
"Universitas-universitas Eropa biasanya menerima IELTS. Namun karena IELTS telah dihentikan di Iran, setelah berkomunikasi secara intensif dengan pihak universitas, mereka sepakat mengizinkan (mahasiswa Iran) memenuhi persyaratan nilai melalui hasil TOEFL yang setara," kata Alireza kepada DW, dikutip dari berbagai sumber.
"Namun sekarang TOEFL juga dihentikan di Iran. Bepergian ke negara tetangga hanya untuk mengikuti ujian sangat mahal, terutama dalam kondisi ekonomi Iran saat ini," tambahnya.
Biaya perjalanan dan akomodasi di luar negeri menjadi beban tambahan bagi mahasiswa, terutama mereka yang mengandalkan beasiswa atau pendanaan penuh.
Para peserta TOEFL dan GRE asal Iran kemudian meluncurkan petisi daring yang mendesak ETS memulihkan akses terhadap kedua ujian tersebut serta meminta OFAC memberikan pengecualian khusus untuk ujian akademik standar.
Bahar, pelamar program Doktoral, mengatakan banyak mahasiswa Iran mulai mengalihkan pilihan dari AS karena semakin sulit memperoleh visa dan kini lebih banyak mempertimbangkan universitas di Eropa serta Australia.
"Bagi kami, sekarang pada dasarnya tidak ada perbedaan antara IELTS dan TOEFL, karena dalam kedua kasus kami harus meninggalkan Iran untuk mengikuti tes bahasa Inggris," kata Bahar kepada DW.
ETS menyatakan sedang mencari kemungkinan untuk kembali menggelar ujian di Iran, tetapi belum memberikan kepastian mengenai waktu layanan tersebut dapat dipulihkan.