Sering Overthinking dan Menyalahkan Diri Sendiri? Coba 7 Cara Ini

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 11 Oct 2026, 09:08 WIB

1064027420

JAKARTA, Cobisnis.com - Pikiran negatif bisa membuat masalah kecil terasa lebih berat dan perlahan menggerus kepercayaan diri. Jika terus berulang, pola pikir tersebut juga dapat memengaruhi suasana hati, perilaku, hingga cara seseorang mengambil keputusan.

Mengubah pola pikir bukan berarti harus selalu berpikir positif atau berpura-pura tidak memiliki masalah. Kuncinya adalah mengenali pikiran negatif, memahami pemicunya, lalu belajar merespons situasi dengan cara yang lebih realistis.

Ada sejumlah langkah sederhana yang bisa dicoba untuk melatih pola pikir agar lebih sehat. Berikut tujuh cara yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kenali pikiran yang muncul

Langkah pertama adalah menyadari pikiran yang muncul ketika merasa cemas, kecewa, atau terlalu keras terhadap diri sendiri. Jangan langsung menganggap setiap pikiran sebagai fakta.

Misalnya, pikiran bahwa diri sendiri pasti gagal belum tentu sesuai dengan kenyataan. Memberi jeda sebelum bereaksi dapat membantu seseorang melihat situasi dengan lebih jernih.

2. Ubah pikiran negatif menjadi lebih realistis

Setelah mengenali pikiran negatif, cobalah memeriksa apakah pikiran tersebut didukung fakta. Pertimbangkan juga kemungkinan sudut pandang lain yang lebih masuk akal.

Pola pikir seperti menganggap segala sesuatu hanya berhasil atau gagal, membesar-besarkan masalah, dan menyalahkan diri sendiri perlu diperhatikan. Mengubah cara menilai situasi dapat membantu seseorang merespons masalah dengan lebih seimbang.

3. Kenali hal yang menjadi pemicu

Pikiran negatif dapat muncul setelah menghadapi tekanan pekerjaan, pengalaman buruk, konflik dengan orang lain, atau situasi tertentu. Mencatat kapan pikiran tersebut muncul dapat membantu mengenali pola dan pemicunya.

Setelah mengetahui pemicunya, seseorang bisa mencoba mengambil jeda, menarik napas dalam-dalam, atau berjalan sebentar. Langkah sederhana ini dapat memberi ruang untuk menenangkan diri sebelum merespons situasi.

4. Buat kalimat penguat untuk diri sendiri

Kalimat penguat dapat menjadi pengingat ketika pikiran negatif mulai muncul. Pilih kalimat yang realistis dan sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.

Contohnya, "Saya mampu melewati ini", "Saya tidak harus sempurna", atau "Saya bisa belajar dari pengalaman ini". Kalimat tersebut dapat membantu mengingatkan bahwa kesalahan dan kesulitan tidak selalu menentukan nilai diri seseorang.

5. Biasakan bersyukur setiap hari

Membiasakan diri bersyukur dapat membantu mengalihkan perhatian dari hal yang tidak berjalan sesuai harapan menuju hal-hal baik yang masih dimiliki. Kebiasaan ini bisa dimulai dengan menuliskan tiga hingga lima hal yang disyukuri setiap hari.

Hal yang dicatat tidak harus berupa pencapaian besar. Dukungan keluarga, kehadiran teman, pekerjaan, kesehatan, atau kesempatan beristirahat juga bisa menjadi alasan untuk bersyukur.

6. Lakukan kebaikan untuk orang lain

Melakukan kebaikan sederhana dapat memberikan pengalaman yang lebih positif dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, membantu teman, menghubungi orang terdekat, menyumbangkan barang yang masih layak pakai, atau mengikuti kegiatan sosial.

Tindakan tersebut juga dapat menjadi cara untuk membangun hubungan dengan orang lain. Namun, membantu orang lain tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi diri sendiri.

7. Ubah lingkungan yang membuat stres

Lingkungan sekitar dapat memengaruhi suasana hati dan cara seseorang memandang situasi. Jika suatu tempat atau kondisi terus menimbulkan tekanan, cobalah mencari suasana yang lebih nyaman.

Berjalan di luar rumah, menikmati alam, atau menghabiskan waktu bersama orang yang suportif bisa menjadi pilihan. Lingkungan yang lebih tenang dapat memberikan kesempatan untuk beristirahat dan menata kembali pikiran.

Mengubah pola pikir membutuhkan latihan dan konsistensi, sehingga hasilnya tidak selalu terasa dalam waktu singkat. Pikiran negatif juga merupakan bagian yang wajar dari pengalaman manusia, bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya.

Hal terpenting adalah belajar mengenali pikiran tersebut dan memilih respons yang lebih sehat. Dengan begitu, seseorang dapat menghadapi masalah secara lebih realistis tanpa terus terjebak dalam penilaian buruk terhadap diri sendiri.