Standard Chartered Dorong Investasi Ekonomi Biru

Oleh Rizki Meirino pada 07 Oct 2026, 16:55 WIB

Standard Chartered dan Konservasi Indonesia membahas pembiayaan, inovasi, dan kolaborasi untuk mendorong investasi ekonomi biru Indonesia di IISF 2026.

JAKARTA, Cobisnis.com - Standard Chartered dan Konservasi Indonesia (KI) mempertemukan pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan untuk membahas peluang pengembangan ekonomi biru Indonesia dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026.

Diskusi tersebut membahas peran pembiayaan, inovasi industri, dan kolaborasi lintas sektor dalam menarik investasi di sektor kelautan dan pesisir, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan mendukung pelestarian lingkungan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengajak sektor keuangan, investor, dunia usaha, serta mitra pembangunan memperkuat kolaborasi untuk mempercepat investasi ekonomi biru.

Menurut Trenggono, ekonomi biru tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat menjadi strategi pembangunan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan ekspor, dan menarik investasi.

"Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, laut merupakan salah satu aset ekonomi terbesar yang dimiliki Indonesia. Ekonomi biru bukan hanya tentang melindungi sumber daya laut, tetapi juga tentang bagaimana mentransformasikannya menjadi nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat," ujar Menteri Sakti Wahyu Trenggono.

Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah menjalankan enam Program Prioritas Nasional, yakni Program Kampung Nelayan Merah Putih, revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa, pengembangan Tambak Udang Terintegrasi, pengembangan budidaya perikanan berbasis desa, modernisasi armada perikanan nasional, serta swasembada garam nasional.

Trenggono juga mengapresiasi dukungan Standard Chartered terhadap pengembangan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan peran pembiayaan strategis dalam mempercepat investasi ekonomi biru sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir.

Ia turut mengundang lembaga keuangan dan investor untuk memperluas pembiayaan pada sektor akuakultur berkelanjutan, hilirisasi rumput laut, industri pengolahan hasil perikanan, serta pembangunan infrastruktur rantai dingin dan logistik kelautan.

Dorong Hilirisasi Sektor Kelautan

Salah satu fokus transformasi ekonomi biru Indonesia adalah hilirisasi sektor kelautan dan perikanan. Indonesia dinilai perlu bergerak dari ekspor bahan baku menuju penciptaan nilai tambah melalui pengolahan, manufaktur, inovasi, dan teknologi.

"Kami terus memperkuat produksi yang berkelanjutan sekaligus membangun kapasitas pengolahan, rantai dingin, sistem jaminan mutu, dan ketertelusuran produk. Dengan naik kelas dalam rantai nilai global, Indonesia dapat meningkatkan daya saing, memperbesar nilai ekspor, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas bagi masyarakat pesisir," jelas Trenggono.

Rumput laut menjadi salah satu komoditas yang dinilai memiliki peluang besar. Trenggono menyoroti peluncuran Indonesia Seaweed Development Action Plan 2026–2030 oleh KKP bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Perindustrian sebagai peta jalan transformasi sektor rumput laut menjadi industri bernilai tambah tinggi, berdaya saing global, dan siap investasi.

"Keberhasilan industri rumput laut tidak lagi diukur dari seberapa banyak kita memanen, tetapi dari seberapa besar nilai tambah yang mampu kita ciptakan melalui teknologi, pengolahan, inovasi, dan manufaktur," kata Trenggono.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan sesi panel bertajuk "Unlocking Indonesia's Blue Economy through Financing, Industry-Led Innovation, and Scalable Partnerships".

Panel tersebut membahas tiga pilar utama ekonomi biru, yakni pembiayaan, inovasi industri, dan kemitraan strategis. Sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi antara lain akuakultur, rumput laut, pengolahan hasil laut, sistem rantai pendingin, keterlacakan atau traceability, hingga produk hayati inovatif seperti biostimulan berbasis rumput laut.

Managing Director, Head of Coverage, Standard Chartered Indonesia Amit Verma mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dunia.

"Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi pemimpin global dalam ekonomi biru. Untuk mewujudkan potensi tersebut diperlukan inovasi pembiayaan, kemitraan yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta, serta investasi pada rantai nilai yang berkelanjutan. Melalui jaringan global dan keahlian kami di bidang pembiayaan berkelanjutan, Standard Chartered berkomitmen mendukung berbagai inisiatif yang dapat memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, serta berkontribusi pada kesehatan ekosistem laut dalam jangka panjang," ujar Amit.

Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany menekankan pentingnya pengukuran dampak ekologis dalam skema pendanaan ekonomi biru.

"Ekonomi biru Indonesia hanya akan tumbuh jika konservasi dan pembiayaan berjalan seiring. Instrumen keuangan berkelanjutan yang diusung KI menunjukkan bahwa pembiayaan bisa menghasilkan capaian lingkungan yang terukur sekaligus manfaat ekonomi. Sektor seperti akuakultur, termasuk rumput laut, membutuhkan pembiayaan seperti itu agar dapat tumbuh dalam skala besar secara berkelanjutan," tegas Meizani.

Para pembicara juga mengeksplorasi berbagai peluang dan tantangan di lapangan, termasuk pengolahan rumput laut dan akses pasar, teknologi maritim dan kesiapan tenaga kerja, pengembangan usaha serta lapangan kerja bagi generasi muda, hingga skema blended finance dan kebijakan pendukung investasi.

Perkuat Kemitraan Ekonomi Biru

Kolaborasi dalam IISF 2026 tersebut melanjutkan kemitraan yang telah dibangun Standard Chartered dan Konservasi Indonesia.

Pada 2025, Standard Chartered menandatangani nota kesepahaman bersama APINDO, Conservation International, dan Konservasi Indonesia untuk memperkuat rantai nilai rumput laut berkelanjutan, membuka peluang investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Komitmen tersebut juga diperkuat Standard Chartered Foundation melalui pengumuman komitmen senilai US$5 juta dalam program Oceans of Opportunity.

Program tersebut berfokus pada penciptaan lapangan kerja dan peluang kewirausahaan bagi generasi muda di sektor ekonomi kelautan ASEAN. Hasil riset program itu turut mengonfirmasi potensi Indonesia pada sektor rumput laut, akuakultur, industri pengolahan, keterlacakan produk, dan rantai pasok berkelanjutan.

Melalui rangkaian diskusi di IISF 2026, Standard Chartered dan Konservasi Indonesia optimistis dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas, mempercepat realisasi proyek ekonomi biru yang bankable atau layak dibiayai, serta menghadirkan investasi yang memberikan dampak bagi industri kelautan dan masyarakat pesisir Indonesia.