Studi Ungkap Sisi Gelap Ekspansi Solar Panel di China

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 24 Aug 2026, 19:53 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Ekspansi pembangkit listrik tenaga surya atau solar panel di China ternyata membawa dampak terhadap keanekaragaman hayati. Sebuah studi terbaru menemukan adanya penurunan keanekaragaman burung seiring meluasnya pembangunan energi surya.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis (20/8/2026) menyebut pembangunan solar panel dapat menimbulkan dampak tersembunyi terhadap lingkungan. Kondisi ini terjadi ketika lahan pertanian dan padang rumput dialihkan untuk proyek energi surya.

Para peneliti menyebut kondisi tersebut sebagai green dilemma atau dilema lingkungan. Transisi menuju energi rendah emisi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keanekaragaman hayati.

"Pesan utamanya bukan untuk memperlambat transisi ke energi terbarukan, tetapi untuk memastikan pembangunan energi surya mempertimbangkan faktor ekologis dengan lebih baik," kata penulis utama studi, Huiming Zhang dari Nanjing University of Information Science & Technology, dikutip dari AFP.

China sendiri menargetkan netralitas karbon sebelum 2060. Target tersebut mendorong pembangunan energi terbarukan dalam skala besar di berbagai wilayah negara tersebut.

Pada 2024, luas area yang digunakan untuk energi surya diperkirakan mencapai 4.520 kilometer persegi. Luasan itu disebut setara dengan wilayah Rhode Island di Amerika Serikat.

China juga memproyeksikan energi surya dapat menyumbang sekitar 45 persen dari bauran energi negara tersebut pada 2060. Namun, pembangunan proyek energi surya tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan lahan dan paparan sinar matahari.

Peneliti menganalisis perbedaan kebijakan pengembangan energi surya di 2.344 kabupaten di China sepanjang 2014 hingga 2023. Mereka juga memperhitungkan cuaca, kondisi ekonomi, tutupan lahan, serta aktivitas pengamatan burung.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara kebijakan pengembangan energi surya dan keanekaragaman burung. Dampaknya tergolong sedang, tetapi semakin kuat di wilayah yang lebih makmur dan bukan kawasan gurun.

Burung yang menetap maupun bermigrasi mengalami penurunan yang signifikan. Sementara itu, spesies dari habitat pegunungan atau wilayah yang kurang sesuai untuk pembangunan solar panel tidak menunjukkan dampak serupa.

Peneliti juga menemukan adanya upaya penghijauan yang dilakukan untuk memenuhi persyaratan lingkungan. Namun, sebagian penghijauan dinilai kurang berkualitas karena tutupan vegetasi yang bertambah tidak selalu berarti kualitas ekologis meningkat.

Yuanning Liang dari Universitas Peking mengatakan burung dapat menjadi indikator penting untuk menilai keanekaragaman hayati dalam skala besar. Menurutnya, persoalan serupa juga berpotensi muncul dalam pembangunan energi terbarukan lainnya, termasuk pembangkit listrik tenaga angin.

"Langkah berikutnya adalah beralih dari sekadar mengukur keanekaragaman hayati ke penilaian nilai dengan mengaitkan perubahan keanekaragaman burung dengan jasa ekosistem dan nilai konservasi," kata Liang.

Para peneliti merekomendasikan agar proyek energi surya berskala besar diarahkan ke lokasi dengan konflik ekologis yang lebih rendah. Penilaian lingkungan yang lebih menyeluruh juga diperlukan sebelum pembangunan dilakukan.

"Pembangunan energi bersih dan konservasi keanekaragaman hayati tidak harus mengorbankan satu sama lain, tetapi pemilihan lokasi yang tepat dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati sangat penting," kata Zhang.