Tidak Lapar di Pagi Hari? Ketahui Penyebabnya Menurut Ahli

Oleh Chodijah Febriani pada 25 Oct 2026, 09:53 WIB

Ilustrasi Tidak Nafsu Makan - pexels/Alena Darmel

JAKARTA, Cobisnis.com - Apakah kamu pernag tidak merasa lapar di pagi hari? Mungkin hal ini perlu diperhatikan, terutama jika perubahan nafsu makan ini berlanjut atau disertai gejala lain.

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi rasa lapar di pagi hari, termasuk kualitas tidur, stres, perubahan hormonal, waktu makan, dan ritme metabolisme individu.

Meskipun beberapa orang mungkin mengalami perubahan nafsu makan bersamaan dengan fluktuasi gula darah, kurangnya rasa lapar di pagi hari saja tidak selalu menunjukkan resistensi insulin atau diabetes.

Menurut Dr. Himika Chawla, Konsultan Senior, Endokrinologi dan Diabetologi, Rumah Sakit PSRI, hanya karena kamu tidak lapar di pagi hari bukan berarti kadar gula darah Anda tidak terkontrol dengan baik.

Ia menjelaskan bahwa metabolisme, perubahan hormonal, kualitas tidur, stres, dan kebiasaan makan semuanya dapat memengaruhi nafsu makan.

Sebagai contoh, jika kamu makan malam yang cukup banyak atau mengonsumsi camilan larut malam, kamu mungkin masih merasa kenyang saat bangun tidur.

"Jadi, beberapa orang juga secara alami memiliki nafsu makan yang lebih kecil di pagi hari karena perbedaan ritme sirkadian dan hormon yang mengatur rasa lapar," ujar Dr. Chawla dilansir dari indianexpress, Minggu (25/10/2026).

Fluktuasi kadar gula darah dapat memengaruhi nafsu makan pada beberapa individu, tetapi nafsu makan di pagi hari saja tidak dapat menentukan apakah seseorang menderita diabetes atau resistensi insulin.

Jadi, apakah makan larut malam dan kurang tidur dapat memengaruhi rasa lapar di pagi hari?

Dr. Chawla mengatakan, jika seseorang makan besar sebelum tidur dapat membuat seseorang merasa kenyang keesokan paginya.

"Kebiasaan makan larut malam yang sering juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Seiring waktu, waktu makan yang tidak teratur dan kebiasaan mengonsumsi makanan padat kalori di larut malam dapat mengganggu pola nafsu makan normal dan memengaruhi kesehatan metabolisme," jelasnya.

Tidur juga memainkan peran penting. Kurang tidur dapat memengaruhi hormon pengatur rasa lapar, respons stres, dan keinginan makan. Namun, efeknya bervariasi dari orang ke orang, dan makan malam larut atau kurang tidur tidak selalu menunjukkan masalah metabolisme.

Oleh karena itu, Dr. Chawla menyarankan untuk menjaga waktu makan yang teratur, mengonsumsi makan malam yang seimbang, dan menargetkan tidur tujuh hingga sembilan jam setiap malam untuk mendukung pola nafsu makan dan metabolisme yang lebih sehat.

Lantas, apakah kurangnya nafsu makan di pagi hari merupakan tanda resistensi insulin atau diabetes?

"Belum tentu," ucap Dr. Chawla.

Jadi, menurut Dr. Chawla, resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh merespons insulin kurang efektif, sehingga menyulitkan pengaturan kadar glukosa darah. Diabetes tipe 2 berkembang ketika tubuh tidak lagi mampu mempertahankan kadar gula darah normal secara memadai.

Meskipun fluktuasi kadar glukosa darah dapat memengaruhi nafsu makan pada beberapa orang, tidak merasa lapar di pagi hari bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk kedua kondisi tersebut.

"Beberapa orang mengalami perubahan nafsu makan seiring dengan fluktuasi gula darah, tetapi nafsu makan yang rendah hanya di pagi hari bukanlah tanda pasti diabetes, resistensi insulin, atau masalah metabolisme lainnya," kata Dr. Chawla.

Jangan hanya berfokus pada rasa lapar di pagi hari, perhatikan juga apakah perubahan tersebut bersifat menetap dan apakah ada gejala lain yang muncul.

Sebenarnya, bagi kebanyakan orang, bangun tidur tanpa nafsu makan bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, terutama jika mereka makan dengan cukup sepanjang hari dan menjaga berat badan tetap stabil.

Namun, Dr. Chawla menyarankan untuk tidak mengabaikan perubahan nafsu makan yang terus-menerus, terutama jika disertai dengan gejala lain, seperti, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kelelahan yang tidak biasa, rasa haus yang berlebihan dan sering buang air kecil; penglihatan kabur, serta suka merasa pusing, berkeringat, gemetar, atau jantung berdebar yang berulang.

"Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda adanya kondisi medis yang mendasarinya, seperti diabetes atau masalah pencernaan, hormonal, atau metabolisme lainnya," Dr. Chawla.

Ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jika gejalanya berlanjut, daripada berasumsi bahwa gejala tersebut disebabkan oleh fluktuasi gula darah.

"Nantinya, dokter dapat menentukan apakah tes, termasuk glukosa darah puasa atau HbA1c, diperlukan," tukasnya.