JAKARTA, Cobisnis.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menempuh jalur diplomasi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kedua negara memulai putaran negosiasi baru pada Senin. Langkah ini dilakukan setelah Trump memutuskan menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Trump mengatakan keputusan tersebut diambil menyusul adanya permintaan dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah yang mendorong penyelesaian konflik melalui dialog. Ia optimistis pembicaraan kali ini dapat membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas.
Meski demikian, Trump tidak mengungkapkan secara rinci lokasi maupun pihak yang akan terlibat langsung dalam proses negosiasi tersebut. Ia hanya menyampaikan bahwa pembicaraan akan dimulai pada hari ini dan perkembangan selanjutnya masih akan dipantau.
Negosiasi ini diharapkan mampu meredakan ketegangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu isu utama yang dibahas adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Selain persoalan Selat Hormuz, pembicaraan juga diperkirakan mencakup program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. Trump menyebut dirinya lebih memilih solusi diplomatik dibandingkan eskalasi militer apabila peluang kesepakatan masih terbuka.
Di sisi lain, pemerintah Iran disebut terus berkomunikasi dengan sejumlah negara kawasan, termasuk Oman, untuk membahas upaya penyelesaian krisis. Sejumlah pihak berharap jalur diplomasi ini dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen.
Pengumuman dimulainya negosiasi turut memengaruhi sentimen pasar global. Harga minyak sempat melemah setelah pelaku pasar menilai peluang berkurangnya konflik di Timur Tengah dapat memperlancar kembali distribusi energi dunia.
Meski proses dialog telah dimulai, hasil akhirnya masih belum dapat dipastikan. Trump menegaskan tidak menetapkan tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan dan mengatakan pembicaraan akan terus dievaluasi sesuai perkembangan di lapangan.