Usai Malaysia dan Singapura, Kabut Asap Karhutla RI Capai Brunei dan Filipina

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 Sep 2026, 10:56 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Indonesia mulai berdampak ke sejumlah negara tetangga. Setelah Malaysia dan Singapura, Brunei Darussalam serta Filipina melaporkan kondisi udara yang memburuk.

Kementerian Kesehatan Brunei pada Minggu, 31 Agustus 2026, memperingatkan masyarakat mengenai potensi gangguan kesehatan akibat kondisi berkabut. Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi mata, dan pilek.

Kemenkes Brunei mengimbau kelompok rentan seperti penderita asma, penyakit paru paru dan jantung, ibu hamil, anak anak, serta lansia mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga dengan gejala pernapasan yang menetap atau memburuk juga diminta segera mencari perawatan medis.

Berdasarkan laporan Asia News Network, citra satelit Pusat Meteorologi Khusus ASEAN atau ASMC mendeteksi 514 titik panas di Kalimantan pada 27 Agustus 2026. Jumlahnya meningkat menjadi 1.734 titik pada 28 Agustus dan 1.180 titik pada 29 Agustus.

Sebagian besar titik panas tersebut berada di wilayah barat Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Angin barat daya kemudian membawa kabut asap dari wilayah tersebut menuju Brunei.

Meski mengalami kondisi berkabut, indeks standar polutan atau PSI di Brunei masih berada pada kategori baik hingga sedang. Angka tertinggi pada 30 Agustus tercatat di Brunei Muara sebesar 73, disusul Tutong 70, Temburong 63, dan Belait 50.

Dampak serupa juga dilaporkan Filipina. Biro Manajemen Lingkungan Filipina menyebut kualitas udara di sejumlah wilayah Metro Manila berada pada level sangat tidak sehat hingga sangat tidak sehat akut.

Otoritas Filipina mengaitkan tingginya kadar PM2.5 dengan kabut asap dari kebakaran yang berlangsung di Kalimantan. Asap tersebut diduga terbawa angin menuju wilayah Filipina.

Kondisi itu turut berdampak pada aktivitas pendidikan di Kota Quezon. Pemerintah setempat menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka di seluruh sekolah negeri dan mengimbau sekolah swasta menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Sebelumnya, Malaysia dan Singapura juga telah melaporkan dampak kabut asap dari karhutla Indonesia. Di Sarawak, Malaysia, indeks polusi udara bahkan sempat mencapai 476 pada pagi 31 Agustus, yang masuk kategori berbahaya.

Penyebaran asap lintas negara kembali menunjukkan bahwa karhutla di Indonesia tidak hanya berdampak terhadap masyarakat di wilayah terdampak langsung. Arah angin dan kondisi atmosfer membuat polusi udara dapat bergerak hingga ke negara negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.