WHO Sudah Revisi Rekomendasi Susu Formula, Tapi Narasi Lama Masih Terus Beredar di Indonesia

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 31 May 2026, 08:03 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Slogan 4 Sehat 5 Sempurna yang selama puluhan tahun dikenal masyarakat Indonesia sebenarnya sudah lama ditinggalkan dalam ilmu gizi. Konsep tersebut digantikan oleh Pedoman Gizi Seimbang yang lebih sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan modern.

Perubahan itu berawal dari kesepakatan konferensi pangan dunia di Roma pada 1992. Di Indonesia, Pedoman Gizi Seimbang kemudian resmi diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014.

Dalam pedoman baru, susu tidak lagi dianggap sebagai unsur penyempurna makanan. Susu diposisikan setara dengan sumber protein lain seperti ikan, telur, dan daging dalam pemenuhan kebutuhan gizi harian.

Guru Besar Emeritus Departemen Gizi Masyarakat IPB, Soekirman, termasuk tokoh yang menolak anggapan bahwa susu harus menjadi bagian wajib program gizi nasional. Menurutnya, kebutuhan protein masyarakat dapat dipenuhi dari banyak sumber pangan lokal yang lebih terjangkau.

Ia juga menilai konsumsi susu tidak selalu cocok bagi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu alasannya adalah tingginya angka intoleransi laktosa pada kelompok etnis Melayu yang dapat memicu gangguan pencernaan.

Selain itu, Soekirman mengingatkan pentingnya menjaga budaya menyusui. Menurutnya, ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi dan tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh susu formula.

Para ahli menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak sebaiknya berfokus pada pola makan seimbang. Protein dari ikan, telur, daging, dan hasil laut dinilai mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa harus bergantung pada susu sebagai makanan utama.