JAKARTA, Cobisnis.com – China terus mengembangkan destinasi wisata bergaya sejarah untuk menarik lebih banyak pengunjung domestik. Menariknya, banyak lokasi tersebut bukan merupakan situs bersejarah asli, melainkan hasil rekonstruksi modern.
Fenomena ini dikenal sebagai fanggu atau "tiruan sejarah". Konsep tersebut menghadirkan desa, istana, dan kawasan bergaya kuno yang dibangun dari awal dengan desain menyerupai masa dinasti di China.
Selain itu, pengelola memperhatikan setiap detail agar suasana terasa autentik. Mereka menanam tanaman rambat, membuat genteng tampak usang, dan menata bangunan agar menyerupai kawasan berusia ratusan tahun.
Banyak situs sejarah asli di China memang telah hilang akibat kebakaran, perang, penjarahan, hingga revolusi. Karena itu, sejumlah daerah memilih membangun kembali nuansa sejarah melalui destinasi wisata baru.
Menurut Direktur International Institute di China Tourism Academy, Yang Jinsong, wisatawan modern kini tidak hanya mencari hiburan. Mereka juga ingin memperoleh pengalaman yang lebih mendalam dan memiliki nilai budaya.
Sementara itu, desa-desa fanggu menawarkan pengalaman tersebut melalui konsep wisata yang imersif. Pengunjung dapat berjalan di jalanan bergaya dinasti, menikmati arsitektur klasik, hingga mengenakan pakaian tradisional China atau Hanfu.
Bagi banyak wisatawan domestik, destinasi ini menjadi pilihan untuk melepas penat di tengah perlambatan ekonomi. Selain itu, biaya yang dibutuhkan relatif terjangkau.
Dengan rata-rata sekitar US$15, pengunjung dapat menyewa ratusan model pakaian Hanfu. Setelah itu, mereka biasanya berfoto dan menikmati berbagai atraksi bertema budaya tradisional China.
Fenomena fanggu menunjukkan bahwa pengalaman budaya kini menjadi daya tarik utama industri pariwisata China. Meski bangunannya bukan peninggalan asli, banyak wisatawan tetap menikmati suasana sejarah yang berhasil dihadirkan.