JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi pembelian perdana minyak mentah dari Venezuela dengan nilai mencapai US$ 500 juta atau setara Rp 8,43 triliun. Transaksi ini menjadi langkah awal dari kesepakatan energi bernilai besar antara kedua negara.
Pembelian minyak tersebut merupakan bagian dari total kesepakatan senilai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 33,73 triliun. Kesepakatan ini disepakati tak lama setelah dinamika politik besar yang terjadi di Venezuela pada awal 2026.
Seorang pejabat pemerintahan AS menyebut pembelian tambahan minyak dari Venezuela diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari hingga pekan ke depan. Volume pengiriman akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan pasokan energi AS.
Dalam skema yang disepakati, dana hasil penjualan minyak Venezuela tidak langsung diterima pemerintah negara tersebut. Seluruh pendapatan dari transaksi awal ini disimpan di rekening bank yang berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut rekening utama penampungan dana berada di Qatar. Negara tersebut dipilih karena dianggap netral dan dinilai aman dari risiko penyitaan atau tekanan hukum internasional.
Penempatan dana di luar wilayah Venezuela juga dinilai sebagai langkah pengamanan politik dan finansial. Skema ini memungkinkan pergerakan dana hanya dilakukan dengan persetujuan otoritas Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan otoritas sementara Venezuela telah sepakat mengekspor sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak mentah ke Amerika Serikat. Kesepakatan ini mulai berlaku sejak awal Januari 2026.
Trump menegaskan pembelian minyak dilakukan dengan harga pasar yang berlaku saat ini. Ia juga menyatakan seluruh mekanisme transaksi berada di bawah kendalinya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Menteri Energi AS Chris Wright ditugaskan langsung untuk menuntaskan kesepakatan tersebut. Minyak mentah Venezuela akan diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan dikirim langsung ke fasilitas bongkar muat di AS.
Langkah ini dipandang sebagai strategi Washington untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi mengubah peta hubungan politik dan ekonomi AS dengan negara-negara Amerika Latin.
Bagi Venezuela, penjualan minyak ini membuka kembali akses ke pasar utama dunia. Namun, pengendalian dana oleh AS menunjukkan bahwa faktor politik masih menjadi penentu utama dalam kerja sama energi ini.