Serangan Houthi di Arab Saudi Picu Harga Minyak Brent Melonjak 4%

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 23 Oct 2026, 09:28 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (22/10/2026), setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 4% dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan.

Minyak Brent naik US$4,35 menjadi US$113,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,32 atau 2,4% menjadi US$99,47 per barel.

Harga penutupan Brent tersebut menjadi yang tertinggi sejak 4 Mei 2026. Brent juga tercatat berada di wilayah overbought secara teknis untuk ketiga kalinya dalam sepekan, menandakan kuatnya tekanan beli di pasar.

Analis energi Ritterbusch and Associates menilai kenaikan harga dipicu tambahan premi risiko setelah serangan baru Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi. Kondisi tersebut terjadi di tengah pembicaraan mengenai kemungkinan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Ketegangan turut memengaruhi aktivitas perusahaan energi Arab Saudi. Saudi Aramco dilaporkan meminta pegawainya mengevakuasi kantor pusat di Dhahran, dekat Bahrain, seiring meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman.

Konflik tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di sekitar Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang berada di pintu masuk Laut Merah. Situasi di kawasan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi.

Analis Morgan Stanley memperkirakan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah mencapai sekitar 17 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Data Kpler menunjukkan rata-rata ekspor dari kawasan tersebut mencapai sekitar 18 juta barel per hari selama 12 bulan sebelum konflik yang melibatkan Iran dimulai.

Besarnya volume ekspor tersebut membuat perkembangan keamanan di Timur Tengah menjadi perhatian penting bagi pasar minyak. Gangguan pada jalur distribusi maupun fasilitas energi berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan tekanan harga.

Di Amerika Serikat, perusahaan energi Valero Energy mencatat laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal III 2026. Kinerja tersebut melampaui ekspektasi pasar, didorong kenaikan margin akibat gangguan pasokan bahan bakar yang berkaitan dengan perang di Iran dan Ukraina.

Lonjakan harga minyak ini menunjukkan besarnya pengaruh risiko geopolitik terhadap pasar energi global. Perkembangan konflik di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai arah harga minyak selanjutnya.