Bitcoin Bertahan di US$69.000, Investor Waspadai Perang dan Harga Energi

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 14 Mar 2026, 09:53 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia mulai membayangi pergerakan pasar kripto. Investor kini cenderung mengambil sikap hati-hati sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.

Harga Bitcoin tercatat berada di kisaran US$69.000 dalam beberapa hari terakhir. Pergerakannya relatif moderat karena pelaku pasar masih menunggu perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyebut dinamika geopolitik dan kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor kripto saat ini.

Menurutnya, dalam beberapa pekan terakhir harga minyak dunia mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pergerakan harga energi tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi global pada periode berikutnya. Jika inflasi meningkat, aktivitas ekonomi dan kebijakan moneter juga dapat ikut terpengaruh.

Karena itu, investor cenderung mencermati berbagai indikator ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi. Sentimen pasar saat ini masih dipengaruhi oleh data makroekonomi global.

Data inflasi Amerika Serikat pada Februari 2026 tercatat berada di level 2,4% secara tahunan. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga tidak memicu reaksi besar dari investor.

Secara bulanan, inflasi AS tercatat naik 0,3% pada Februari. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% yang terjadi pada Januari sebelumnya.

Sementara itu inflasi inti atau core CPI yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Angka ini juga masih sesuai dengan proyeksi para analis.

Stabilnya angka inflasi tersebut membuat pelaku pasar lebih fokus pada arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Kebijakan moneter masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko seperti kripto.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan peluang hampir 99% bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret.

Sementara itu probabilitas pemangkasan suku bunga sekitar 25 basis poin pada April diperkirakan masih relatif kecil, yakni sekitar 11%. Kondisi ini membuat pasar kripto cenderung bergerak lebih defensif.

Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai Bitcoin merupakan aset yang sangat sensitif terhadap dinamika makroekonomi global.

Ia menjelaskan bahwa eskalasi konflik geopolitik serta lonjakan harga energi dapat menekan aset berisiko dalam jangka pendek. Dalam situasi tersebut, investor biasanya mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya. Namun arah pasar masih bisa berubah dengan cepat mengikuti perkembangan geopolitik global.