KSPN Sesalkan Kerja Sama PSSI dengan Kelme, Soroti Nasib Industri Tekstil Nasional

Oleh Iwan Supriyatna pada 14 Mar 2026, 09:53 WIB

Ilustrasi industri tekstil.

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, menyayangkan keputusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menjalin kerja sama dengan produsen apparel olahraga asal Spanyol, Kelme, sebagai mitra resmi penyedia jersey tim nasional sepak bola Indonesia hingga tahun 2030.

Ristadi menilai keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keberpihakan PSSI terhadap industri nasional, khususnya di tengah kondisi industri tekstil dan garmen dalam negeri yang saat ini tengah menghadapi tekanan serius.

Menurutnya, sektor tekstil dan garmen merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan saat ini sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Banyak pabrik, kata dia, sedang menghadapi tantangan berat akibat penurunan permintaan global, meningkatnya biaya produksi, serta ketatnya persaingan dengan produk impor.

“Dalam situasi seperti ini, setiap kebijakan maupun kerja sama yang dapat melibatkan produksi dalam negeri seharusnya dimaksimalkan untuk membantu menjaga keberlangsungan industri tekstil garmen serta melindungi jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini,” ujar Ristadi ditulis Sabtu (14/3/2026).

Ia menilai kerja sama PSSI dengan produsen luar negeri berpotensi menghilangkan kesempatan bagi industri garmen dalam negeri untuk memperoleh nilai tambah dari momentum besar seperti penyediaan jersey tim nasional.

Padahal, lanjutnya, Indonesia memiliki kapasitas industri tekstil dan garmen yang memadai, baik dari sisi teknologi produksi, kualitas bahan, maupun pengalaman memasok berbagai merek global. Beberapa produsen apparel olahraga lokal yang dinilai memiliki kualitas baik antara lain Mills, Specs, dan Duraking.

Ristadi juga menilai keputusan tersebut menghadirkan ironi. Di satu sisi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan sedang mendorong gerakan penggunaan produk dalam negeri untuk memperkuat industri nasional.

Namun di sisi lain, organisasi olahraga sebesar PSSI justru memberikan panggung kepada produsen luar negeri untuk produk yang sangat identik dengan identitas nasional, yakni jersey tim nasional Indonesia.

Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap industri nasional tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan besar. Menurutnya, keputusan sederhana seperti memilih produsen dalam negeri untuk kebutuhan simbolik bangsa dapat memberikan dampak psikologis sekaligus ekonomi yang signifikan.

“Jersey tim nasional bukan sekadar pakaian pertandingan, tetapi juga simbol kebanggaan nasional yang seharusnya bisa menjadi panggung bagi kemampuan industri dalam negeri,” katanya.

KSPN juga mengingatkan bahwa semangat nasionalisme dalam tim nasional tidak hanya diukur dari performa di lapangan, tetapi juga dari keberpihakan organisasi terhadap ekosistem ekonomi nasional.

Karena itu, pihaknya berharap PSSI dapat meninjau kembali arah kebijakan kerja sama tersebut, atau setidaknya membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi industri tekstil dan garmen nasional dalam rantai produksi maupun distribusi apparel tim nasional di masa mendatang.

“Sepak bola bukan hanya soal pertandingan. Momentum kebanggaan nasional ini seharusnya juga dapat memberikan manfaat nyata bagi penguatan industri nasional, termasuk bagi para pekerja di sektor tekstil garmen,” ujar Ristadi.