JAKARTA, Cobisnis.com – Emas kembali menunjukkan tajinya sebagai aset lindung nilai utama dunia. Pada perdagangan terbaru, harga emas menembus rekor tertinggi atau all time high (ATH) di level US$4.835 per troy ounce, sementara perak ikut melesat ke US$95.
Lonjakan harga logam mulia ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan isu geopolitik dengan ancaman terkait Greenland. Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar global dan mendorong investor memburu aset aman.
Di dalam negeri, dampak kenaikan harga emas global langsung terasa. Harga emas batangan Antam melonjak Rp35.000 menjadi Rp2.772.000 per gram, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen penyimpan nilai.
Tak hanya emas fisik, aset emas digital juga ikut terkerek naik. Token emas XAUT tercatat melonjak 3,60% dan diperdagangkan di level US$3.836 per token, menandakan arus modal yang kuat ke instrumen berbasis emas.
Di sisi lain, pasar kripto justru bergerak berlawanan arah. Bitcoin menjadi salah satu top loser setelah anjlok ke kisaran US$88.000 pada perdagangan Rabu (21/01), tertekan oleh aksi jual dan pergeseran sentimen investor.
Tekanan terhadap Bitcoin mencerminkan perubahan perilaku pasar. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko kebijakan global, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi seperti kripto.
Ancaman Trump tidak berhenti pada isu Greenland. Ia juga mengisyaratkan potensi tarif terhadap negara-negara Eropa yang menyatakan dukungan untuk Denmark dalam konflik tersebut, memperluas ketegangan politik dan ekonomi lintas kawasan.
Situasi makin memanas setelah Uni Eropa, Kanada, dan Prancis secara terbuka menyatakan solidaritas kepada Denmark. Pernyataan ini mempertegas blok geopolitik baru yang berhadapan langsung dengan kepentingan Amerika Serikat.
Pasar keuangan merespons cepat eskalasi ini. Ketidakpastian politik global kembali menjadi katalis utama reli emas dan perak, yang secara historis selalu diuntungkan dalam situasi krisis dan konflik internasional.
Kondisi ini memperkuat posisi emas sebagai “safe haven” sejati. Ketika ketegangan global meningkat dan aset berisiko tertekan, emas kembali menjadi tujuan utama investor untuk menjaga stabilitas portofolio.