JAKARTA, Cobisnis.com – Bitcoin kembali berada dalam tekanan berat setelah melanjutkan tren penurunan harga. Aset kripto terbesar dunia itu kini diperdagangkan di level US$87.000 atau turun 4,61% dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (21/01) pagi, pelemahan Bitcoin memicu gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto. Sentimen pasar berubah tajam dari optimisme menjadi defensif.
Sebanyak 180.109 trader tercatat mengalami likuidasi dalam periode tersebut. Mayoritas kerugian berasal dari posisi long yang gagal bertahan menghadapi tekanan harga.
Total nilai posisi long yang terlikuidasi mencapai US$998 juta atau setara Rp16 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya eksposur leverage di tengah kondisi pasar yang rapuh.
Tekanan terhadap Bitcoin tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu katalis utama datang dari meningkatnya kecemasan pasar terhadap kondisi makroekonomi global, khususnya kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan adanya rencana penerapan tarif sebesar 10% terhadap negara-negara sekutu Uni Eropa. Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran akan perang dagang baru.
Situasi semakin panas setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyuarakan ambisinya untuk menganeksasi Greenland. Wacana ini menuai penolakan keras dari sejumlah negara anggota NATO.
Jerman, Belanda, dan Prancis secara terbuka menentang rencana tersebut. Ketegangan geopolitik pun meningkat dan berdampak langsung pada pasar keuangan global.
Sebagai respons, Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk-produk dari negara yang menolak kebijakan AS. Ancaman ini menambah tekanan pada aset berisiko, termasuk kripto.
Di tengah kondisi tersebut, investor global cenderung menghindari aset volatil dan beralih ke instrumen yang lebih stabil. Bitcoin pun kembali kehilangan daya tarik jangka pendeknya.