JAKARTA, Cobisnis.com – Emas mencatatkan kinerja paling moncer sepanjang tahun 2025 dan meninggalkan seluruh kelas aset investasi lain. Logam mulia ini menguat tajam hingga 62 persen, menjadikannya primadona di tengah ketidakpastian global.
Lonjakan harga emas terjadi saat pasar global dibayangi risiko geopolitik dan ketegangan perdagangan. Kebijakan tarif yang kembali digaungkan Amerika Serikat membuat investor memilih aset aman dibanding instrumen berisiko.
Selain faktor geopolitik, akumulasi besar-besaran oleh bank sentral dunia menjadi pendorong utama reli emas. Banyak negara meningkatkan cadangan emas untuk memperkuat stabilitas moneter di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di saat emas melesat, kinerja pasar saham Amerika Serikat masih mencatatkan pertumbuhan positif. Indeks Nasdaq menguat 20,5 persen, sementara S&P 500 naik 16,6 persen sepanjang 2025.
Penguatan indeks saham AS ditopang euforia besar terhadap sektor teknologi, khususnya perkembangan artificial intelligence (AI). Narasi transformasi digital mendorong valuasi emiten teknologi tetap atraktif bagi investor.
Namun, tidak semua aset menikmati kinerja solid. Bitcoin, yang sempat diharapkan menjadi alternatif lindung nilai, justru tampil di bawah ekspektasi pasar sepanjang tahun lalu.
Meski demikian, kinerja Bitcoin masih lebih baik dibanding sejumlah instrumen lain. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah sekitar 10 persen akibat tekanan kebijakan moneter dan defisit fiskal AS.
Sementara itu, harga minyak mentah atau crude oil mengalami koreksi tajam hingga 21,5 persen. Pelemahan ini dipicu perlambatan permintaan global serta pasokan yang tetap tinggi.
Perbedaan kinerja antar kelas aset mencerminkan perubahan preferensi investor. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, aset defensif seperti emas kembali menjadi pilihan utama.
Capaian ini mempertegas peran emas sebagai aset lindung nilai klasik. Ketika volatilitas meningkat dan risiko global membesar, emas kembali menunjukkan kekuatannya.