Harga Minyak Mendekati US$90 Airlangga Bilang RI Masih Aman

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 12 Aug 2026, 10:50 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah optimistis Indonesia masih mampu menghadapi risiko kenaikan harga minyak dunia di tengah gejolak geopolitik global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kondisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi tekanan tersebut.

Airlangga mengatakan risiko terhadap perekonomian akan semakin besar jika harga minyak dunia menembus US$100 per barrel. Saat ini, rata rata harga minyak yang dibeli Indonesia masih berada di kisaran US$91 per barrel.

"Kita sekarang pembelian minyaknya masih rata rata di angka 91 dollar AS," ujar Airlangga di kawasan Jakarta Pusat, dikutip dari  beberapa media,  Selasa (11/8/2026).

Harga minyak dunia sendiri mengalami kenaikan di tengah ketidakpastian terkait kesepakatan Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent naik 2,53% menjadi US$89,94 per barrel, sedangkan WTI naik 2,7% menjadi US$84,36 per barrel.

Di dalam negeri, pemerintah memastikan ketersediaan BBM jenis Pertalite dan Biodiesel relatif aman hingga akhir 2026. Pemerintah juga memiliki sumber pasokan gasoline dari Singapura untuk kebutuhan sektor hilir.

"Itu relatif sampai akhir tahun Pertalite dan Biodiesel aman," kata Airlangga.

Menurut Airlangga, kondisi tersebut membuat Indonesia masih memiliki ruang untuk memitigasi dampak gejolak geopolitik dan gangguan jalur perdagangan. Ketahanan tersebut juga tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05% pada semester I 2026.

Airlangga menilai pertumbuhan ekonomi tersebut masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara ASEAN maupun negara negara G20. Pemerintah juga mencatat inflasi Indonesia berada di level 2,88%.

Kondisi inflasi yang relatif terkendali dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi tekanan harga energi. Kenaikan harga minyak di sejumlah negara dapat diteruskan ke harga barang dan jasa sehingga mendorong inflasi lebih tinggi.

Indonesia juga dinilai memiliki ketahanan energi dari sektor kelistrikan. Sebagian besar pembangkit listrik masih menggunakan sumber energi domestik, terutama batu bara, sehingga pemerintah belum melihat tekanan besar terhadap harga batu bara akibat kondisi global.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah masih melihat perekonomian Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi gejolak global. Risiko tetap menjadi perhatian, terutama apabila harga minyak dunia bergerak melewati level US$100 per barrel.