JAKARTA, Cobisnis.com - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi Universitas Negeri Jakarta (HIPMI PT UNJ) mengajak mahasiswa untuk membangun pola pikir kewirausahaan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan individu, tetapi juga mengedepankan kepemimpinan, kolaborasi, dan penguatan jejaring bisnis. Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian HIPMI Insight 2026 yang diselenggarakan di Aula Bung Hatta, Kampus A Universitas Negeri Jakarta.
Sesi diskusi menghadirkan jajaran pengurus HIPMI, yakni Dzaki Adinda Husna selaku Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Selatan, Mahesa Satadini Husein selaku Ketua Bidang I Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK) BPD HIPMI Jaya, serta Dhimas Pringgorodianto selaku Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Timur. Ketiganya berbagi pengalaman dan pandangan mengenai pentingnya membangun karakter kepemimpinan serta kolaborasi sebagai fondasi utama dalam mengembangkan usaha.
Dalam paparannya, Dzaki menyoroti masih banyak mahasiswa yang memilih membangun bisnis seorang diri karena menganggap organisasi belum memberikan manfaat langsung terhadap perkembangan usahanya. Menurutnya, pola pikir sebagai solo fighter justru menjadi salah satu hambatan terbesar bagi seorang entrepreneur untuk bertumbuh.
"Bisnis tidak bisa terus dijalankan sendirian. Agar berkembang, seorang pengusaha membutuhkan kemampuan memimpin, mendelegasikan pekerjaan, serta membangun jaringan yang kuat. Di sinilah organisasi seperti HIPMI berperan membentuk karakter dan mental entrepreneur," ujar Dzaki.
Ia menjelaskan bahwa ketika seluruh aspek bisnis dikerjakan sendiri—mulai dari pemasaran, pelayanan pelanggan, hingga operasional—ruang untuk melakukan ekspansi dan inovasi akan semakin terbatas. Oleh karena itu, kemampuan membangun tim dan berkolaborasi menjadi kompetensi yang harus dimiliki setiap pengusaha muda.
Selain membahas pentingnya kolaborasi, para narasumber juga menekankan bahwa proses kaderisasi di HIPMI tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan bisnis, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan, kemampuan komunikasi, pengambilan keputusan, serta penyelesaian masalah dalam organisasi maupun dunia usaha.
Mahesa Satadini Husein menambahkan bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin bukanlah membangun tim, melainkan menjaga kekompakan ketika muncul perbedaan pendapat maupun konflik internal. Menurutnya, kualitas seorang pemimpin akan terlihat dari kemampuannya menyatukan visi, membangun budaya organisasi yang sehat, dan mengambil keputusan secara bijaksana dalam berbagai situasi.
Sementara itu, Dhimas Pringgorodianto membagikan pengalamannya mengenai pentingnya komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, dan konsistensi dalam mengelola sebuah tim. Ia menilai keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk atau layanan, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang berada di baliknya.
Melalui forum ini, HIPMI PT UNJ berharap semakin banyak mahasiswa yang memahami bahwa kewirausahaan bukan sekadar tentang mendirikan bisnis, tetapi juga tentang membangun kapasitas diri sebagai pemimpin yang mampu berkolaborasi, beradaptasi, dan menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Semangat tersebut menjadi bagian dari komitmen HIPMI PT UNJ dalam mencetak generasi pengusaha muda yang berdaya saing, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia usaha di masa depan.