Imbas Erupsi Anak Krakatau, 4 Bandara Ditutup sampai Sore

Oleh Hidayat Taufik pada 07 Sep 2026, 09:41 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali memengaruhi aktivitas penerbangan. Empat bandara masih menghentikan sementara layanan penerbangan hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB.

Penghentian operasional tersebut diperpanjang oleh PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports karena abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berpotensi mengganggu penerbangan.

"Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, beberapa bandara PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mengalami penghentian operasional penerbangan sampai dengan 7 September 2026 pukul 18.00 WIB," tulis PT Angkasa Pura Indonesia dalam akun Instagramnya, Senin (7/9/2026).

Empat bandara yang terkena dampak penghentian penerbangan tersebut adalah Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II (TKG), dan Bandara Husein Sastranegara (BDO).

Keempat bandara itu sama-sama mengalami penghentian operasional penerbangan sampai pukul 18.00 WIB pada Senin, 7 September 2026.

InJourney Airports mengingatkan calon penumpang agar secara rutin mengecek informasi terbaru mengenai penerbangan mereka. Penumpang juga dapat memperoleh informasi dengan menghubungi maskapai terkait atau Contact Center InJourney Airports.

Penghentian penerbangan tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali terjadi pada Minggu (6/9/2026) malam. Erupsi tercatat berlangsung pada pukul 20.23 WIB.

PVMBG menyebut tidak terdapat pengamatan visual terhadap letusan tersebut. Meski demikian, aktivitas vulkanik terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 58 milimeter dan durasi selama 44 detik.

Pada Senin pagi, abu vulkanik hasil erupsi masih terdeteksi bergerak ke sejumlah wilayah. BMKG bahkan melaporkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah mencapai kawasan Jakarta.

Pemantauan BMKG hingga pukul 06.00 WIB menemukan dua kelompok sebaran debu vulkanik yang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau," kata BMKG dalam keterangannya, Senin (7/9).

Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang hendak melakukan perjalanan melalui jalur udara diimbau mencermati informasi penerbangan terbaru. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik juga perlu terus dipantau.