JAKARTA, Cobisnis.com - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai ekonomi Asia menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global, didukung dampak guncangan energi yang lebih terbatas dari perkiraan serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Wakil Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Thomas Helbling menyampaikan penilaian tersebut dalam wawancara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group 2026 di Bangkok, Thailand.
"Untuk Tiongkok, dan kawasan Asia secara keseluruhan, kami melihat ketahanan," ujar Helbling, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (21/10/2026).
Dalam laporan Prospek Ekonomi Regional Asia dan Pasifik yang dirilis pada Kamis (15/10/2026), IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia pada 2026 menjadi 4,8%, atau naik 0,4 poin persentase dibandingkan proyeksi April.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2026 diproyeksikan mencapai 4,5%, meningkat 0,1 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.
Helbling menjelaskan, dampak guncangan energi pada tahun ini lebih terbatas daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Di Tiongkok, pemerintah berupaya mengurangi dampak kenaikan harga terhadap konsumen akhir serta memanfaatkan sumber energi lain untuk mengimbangi sebagian dampak negatif gangguan pasokan bahan bakar fosil.
Selain faktor energi, perkembangan AI juga dinilai memberikan dorongan bagi perekonomian kawasan Asia.
"Pesatnya perkembangan AI semakin meluas, dan memiliki efek limpahan positif yang lebih luas terhadap kawasan tersebut," imbuh Helbling.
Menurut dia, perkembangan AI berlangsung sangat cepat di Korea Selatan dan semakin kuat di negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia.
Perkembangan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja ekspor Jepang, Tiongkok, dan India.
Meski demikian, IMF tetap menyoroti risiko apabila gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama atau semakin parah.
Helbling menjelaskan, persediaan energi serta kebijakan seperti subsidi energi dan pengurangan pajak telah membantu membatasi dampak guncangan pasokan, tetapi langkah-langkah tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
"Penyangga tidaklah tanpa batas," tegas Helbling.
Ia memperingatkan bahwa jika gangguan energi terus berlanjut, negara-negara pada akhirnya dapat kehabisan persediaan sehingga kenaikan harga akan memberikan tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian.
Karena itu, negara-negara perlu membangun kembali penyangga energi agar lebih siap menghadapi gangguan pasokan berikutnya.
IMF juga menyoroti risiko keuangan yang berkaitan dengan pesatnya investasi AI, terutama ketika penggunaan utang dan kerentanan keuangan di sektor tersebut meningkat.
"Di tengah investasi AI yang sangat besar, ketika penggunaan utang dan kerentanan keuangan terkait AI meningkat, ada kekhawatiran bahwa dalam jangka pendek, AI mungkin tidak memenuhi ekspektasi dalam menghasilkan laba dan pendapatan. Dan hal ini dapat memicu koreksi pasar, yang pada akhirnya akan berujung pada sejumlah koreksi dalam investasi dan permintaan," paparnya.
Helbling menilai kerangka regulasi dan pengawasan perlu diperkuat agar sistem keuangan mampu menyerap potensi guncangan dalam ekosistem AI.
Upaya tersebut, antara lain, dapat dilakukan melalui pembatasan penggunaan utang dan eksposur berlebihan terhadap sektor AI.
Selain risiko energi dan teknologi, IMF mengkhawatirkan fragmentasi geoekonomi serta ketegangan geopolitik yang dapat menghambat perdagangan dan meningkatkan friksi antarnegara.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan inefisiensi yang lebih besar dalam perekonomian global dan regional serta menekan pertumbuhan.
Helbling mengatakan IMF telah lama mendorong negara-negara untuk menyelesaikan persoalan mendasar yang memicu ketegangan perdagangan dan mempertahankan sistem perdagangan terbuka, idealnya melalui mekanisme multilateral.
IMF juga menyambut upaya proaktif Tiongkok dalam mempertahankan sistem perdagangan multilateral berbasis aturan.
"Pada akhirnya, penting bagi negara-negara untuk menyelesaikan ketegangan dan perbedaan mendasar di balik sengketa perdagangan. Bagi perekonomian besar seperti Tiongkok, penting untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menyelesaikan sejumlah perbedaan tersebut," tandas Helbling.