Kiriman Uang dari NTT Terhenti Mahasiswa di Jogja Terpaksa Ngutang Makan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 20 Aug 2026, 04:49 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 turut berdampak pada mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Putusnya komunikasi dengan keluarga dan terhentinya kiriman uang saku membuat sebagian mahasiswa harus mencari cara untuk bertahan. Salah satunya dengan mengandalkan nasi darurat hingga berutang makanan di Warmindo.

Kondisi tersebut dialami Vansianus Masir atau Ancik, mahasiswa semester VIII STPMD APMD Yogyakarta asal Manggarai Timur, NTT. Ia mengaku tidak tega meminta kiriman uang kepada ibunya yang berada di daerah terdampak gempa.

"Untuk kebutuhan, saya kemarin pesan nasi darurat itu," ujar Ancik, dikutip dari beberapa sumber, Rabu (19/8/2026).

Ancik juga mengaku terpaksa berutang makanan di sejumlah Warmindo. Ia memilih cara tersebut sambil menunggu kondisi keluarga dan komunikasi di kampung halamannya kembali normal.

Komunikasi dengan keluarga sempat terputus setelah gempa. Gangguan listrik dan jaringan membuat Ancik kesulitan mengetahui kondisi ibunya yang berada di Manggarai Timur.

Ia akhirnya mengetahui ibunya selamat melalui seorang teman yang masih bisa mengakses Facebook. Namun, kondisi kampung halamannya masih memprihatinkan karena sejumlah rumah rusak dan akses menuju desa terputus akibat longsor.

Di Desa Wangkarweli, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, sedikitnya lima rumah dilaporkan mengalami kerusakan parah. Salah satu rumah bahkan hancur dan penghuninya disebut sempat terisolasi.

Ancik mengatakan bantuan pemerintah belum masuk ke wilayah tersebut saat ia memberikan keterangan. Mahasiswa asal NTT yang berada di perantauan kemudian ikut menggalang donasi untuk membantu keluarga dan warga terdampak.

Kondisi Ancik juga menggambarkan persoalan yang dihadapi mahasiswa NTT lainnya di Yogyakarta. Selain khawatir terhadap keluarga, mereka harus menghadapi masalah kebutuhan sehari-hari karena kiriman uang dari kampung terhenti.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian menyiapkan sejumlah bantuan untuk mahasiswa asal NTT. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta perguruan tinggi mendata mahasiswa terdampak dan memberikan keringanan hingga pembebasan biaya pendidikan.

Pemda DIY juga menyiapkan bantuan pangan untuk mahasiswa NTT yang tinggal di fasilitas asrama. Sebanyak 405 kilogram beras per bulan, ditambah telur dan bahan pokok lainnya, dialokasikan selama empat bulan.