Badan Pengungsi PBB (UNHCR) juga melaporkan hampir 3.700 orang telah meninggalkan Yaman menuju Djibouti sejak 10 September untuk menghindari dampak pertempuran.
Data UNHCR terbaru menunjukkan jumlah pengungsi internal terus meningkat seiring eskalasi konflik, dengan lebih dari 142.000 orang tercatat sebagai pengungsi baru sejak 1 Agustus berdasarkan pembaruan hingga akhir September.
Situasi tersebut semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman yang selama bertahun-tahun menghadapi konflik dan perpindahan penduduk.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 959 orang tewas dan 4.207 lainnya terluka akibat eskalasi militer di 10 provinsi antara 6 Agustus hingga 2 Oktober 2026.
Kasus Kolera Meningkat
Konflik juga berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan masyarakat, terutama kelompok yang terpaksa tinggal di lokasi pengungsian.
WHO melaporkan kasus kolera meningkat tiga kali lipat hanya dalam kurun waktu tiga pekan di tengah memburuknya situasi kesehatan.
Sebanyak 94 persen kasus terbaru tercatat di lima provinsi yang menjadi lokasi utama penampungan keluarga yang mengungsi, termasuk Taiz, Ahen, dan Abyan.
Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan yang sudah menghadapi keterbatasan sumber daya.
WHO juga mencatat peningkatan penyakit menular lain serta kekhawatiran terhadap kasus kekurangan gizi pada anak-anak yang terdampak perpindahan akibat konflik.
Eskalasi pertempuran dengan demikian tidak hanya memicu perpindahan penduduk dalam jumlah besar, tetapi juga memperbesar risiko kesehatan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Data UNHCR dan WHO menunjukkan bahwa konflik terbaru telah memperdalam tekanan terhadap kondisi kemanusiaan Yaman, baik di wilayah yang menampung pengungsi maupun di fasilitas kesehatan yang harus menangani meningkatnya kebutuhan.