Narasi Bellingham Sebut Messi Lebih Buruk dari Ronaldo Dipastikan Hoaks

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 16 Jul 2026, 11:37 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Narasi yang menyebut gelandang Timnas Inggris Jude Bellingham pernah mengatakan Lionel Messi lebih buruk dibanding Cristiano Ronaldo dipastikan tidak benar. Klaim tersebut beredar luas di media sosial menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina.

Unggahan yang viral menampilkan foto Bellingham seolah sedang memberikan pernyataan mengenai Messi. Dalam narasi itu, Bellingham juga diklaim menyebut Argentina sering menang karena keputusan wasit yang kontroversial.

Namun, hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menunjukkan tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Tidak ditemukan rekaman wawancara maupun pemberitaan dari media kredibel yang memuat pernyataan tersebut.

Unggahan yang beredar juga tidak menyertakan sumber resmi. Ketiadaan referensi membuat klaim tersebut tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Tim Cek Fakta Kompas.com kemudian melakukan penelusuran menggunakan Google Search. Hasilnya, tidak ditemukan jejak pernyataan Bellingham yang membandingkan Messi dengan Cristiano Ronaldo seperti yang diklaim dalam unggahan.

Selain itu, foto yang digunakan dalam unggahan juga ditelusuri menggunakan teknik reverse image search. Penelusuran dilakukan untuk memastikan konteks asli dari gambar yang dipakai dalam narasi viral tersebut.

Berdasarkan hasil verifikasi, foto tersebut tidak berkaitan dengan pernyataan yang beredar di media sosial. Artinya, gambar digunakan di luar konteks untuk memperkuat narasi yang tidak benar.

Kasus ini kembali menunjukkan pentingnya memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Kutipan tanpa sumber resmi sering kali digunakan untuk membangun opini yang menyesatkan publik.

Masyarakat diimbau mengutamakan informasi dari media kredibel maupun kanal resmi tokoh yang bersangkutan. Langkah sederhana ini dapat membantu mencegah penyebaran hoaks yang semakin mudah beredar di media sosial.

Penyebaran informasi palsu, terutama yang melibatkan tokoh publik dan ajang olahraga internasional, berpotensi memicu kesalahpahaman serta memperkeruh perdebatan di ruang digital.