JAKARTA, Cobisnis.com – Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto menegaskan penunjukannya sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) bukan keputusan instan. Ia menyebut prosesnya panjang dan penuh pertimbangan, terutama menyangkut independensi sikap.
Noe mengatakan, sejak awal dirinya tidak serta-merta menerima tawaran tersebut. Berbagai diskusi dan obrolan intens dilakukan sebelum akhirnya ia memutuskan bergabung dalam struktur negara.
Menurut Noe, posisi Tenaga Ahli bukanlah pilihan yang nyaman. Selama ini ia berada di zona aman melalui aktivitas sosial dan kultural bersama komunitas Maiyah yang relatif minim risiko politik.
Masuk ke dalam sistem pemerintahan, kata dia, justru berpotensi memicu kontroversi dan kritik publik. Namun, hal itu tetap ia timbang secara objektif sebagai bagian dari tanggung jawab warga negara.
Noe menjelaskan, pertimbangan utamanya adalah soal objektivitas. Ia menilai Tenaga Ahli harus mampu berbicara jujur, baik ketika menyampaikan hal yang manis maupun pahit.
Dalam proses wawancara dan diskusi, Noe mengaku berbicara blak-blakan. Ia menyampaikan kritik terhadap praktik pemerintahan, termasuk soal kebijakan yang dinilai menjauh dari nilai dasar bangsa seperti gotong royong.
Ia juga menyinggung banyak kebijakan digital yang dinilai belum berangkat dari fondasi filosofis negara, meski telah melahirkan ribuan aplikasi dan program.
Noe menegaskan, kritik yang ia sampaikan bukan bersifat personal. Seluruh pandangan didasarkan pada analisis, riset, dan pengalaman panjang yang ia miliki.
Sebagai Tenaga Ahli, Noe menempatkan kejujuran sebagai prinsip utama. Ia menyatakan tidak memiliki kewajiban menyenangkan atasan, melainkan menyampaikan analisis apa adanya.
Menurut Noe, perbedaan utama berada pada cara pandang. Jika politik sering dibatasi siklus lima tahunan, maka kepentingan negara harus dilihat dalam kerangka jangka panjang lintas generasi.
Ia juga menegaskan kesiapannya untuk mundur apabila rekomendasinya tidak digunakan dan dinilai tidak memberi dampak. Baginya, bertahan tanpa manfaat nyata justru bertentangan dengan prinsip yang ia pegang.