Jamkrindo

Trump Ingin Industri Minyak AS Kembali Berjaya Di Venezuela, Namun Tantangannya Tidak Mudah

Oleh Zahra Zahwa pada 05 Jan 2026, 18:55 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ingin perusahaan-perusahaan minyak Amerika berperan besar dalam membangkitkan kembali industri minyak Venezuela yang hancur. Namun, para pengamat industri energi menilai ambisi tersebut jauh dari kata mudah dan sarat risiko bagi raksasa minyak AS.

Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun, untuk meningkatkan produksi secara signifikan, perusahaan minyak harus membangun ulang infrastruktur energi negara tersebut yang telah rusak parah selama bertahun-tahun. Menurut Trump sendiri, upaya ini akan menelan biaya miliaran dolar, di tengah harga minyak global yang belum tentu cukup menguntungkan untuk menutup investasi besar tersebut.

Selain itu, minyak mentah Venezuela dikenal sebagai minyak berat dan berkadar sulfur tinggi, yang membutuhkan teknologi khusus serta biaya penyulingan yang jauh lebih mahal. Kondisi ini membuat investasi di sektor minyak Venezuela menjadi keputusan yang sulit, bahkan di negara yang stabil secara politik, apalagi di tengah krisis politik pasca-lengsernya presiden otoriter Nicolás Maduro.

“Situasi ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai masa depan politik Venezuela, dan itu akan menjadi pertimbangan utama bagi para perencana korporasi dan industri,” kata Clayton Seigle, peneliti senior Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Pada Sabtu lalu, pasukan khusus Amerika Serikat melakukan operasi besar yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya diterbangkan ke New York dan didakwa atas tuduhan konspirasi narkoterorisme, penyelundupan kokain, serta pelanggaran senjata.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “menjalankan” Venezuela hingga kepemimpinan yang aman terbentuk. Di hari yang sama, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Delcy Rodríguez yang juga mengawasi perusahaan minyak negara Petróleos de Venezuela SA (PDVSA) sebagai presiden sementara.

Trump meyakini perusahaan minyak AS dapat mengembalikan potensi Venezuela sebagai produsen minyak utama dunia. “Kami akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika yang sangat besar, menghabiskan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” ujar Trump.

Secara historis, perusahaan minyak asing, khususnya dari Amerika Serikat, telah beroperasi di Venezuela selama lebih dari satu abad. Kedekatan geografis dan karakteristik minyak Venezuela menjadikannya mitra strategis bagi kepentingan energi AS. Bahkan, kilang-kilang minyak di Amerika dirancang khusus untuk mengolah minyak Venezuela.

Namun, situasi berubah drastis sejak Hugo Chávez berkuasa pada 1999. Nasionalisasi PDVSA dan buruknya pengelolaan membuat infrastruktur minyak membusuk, menyebabkan produksi minyak Venezuela turun lebih dari sepertiga dalam 25 tahun terakhir.

Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak Amerika yang masih bertahan di Venezuela. Sekitar seperempat produksi minyak Venezuela yang dihasilkan Chevron diekspor ke Amerika Serikat. Keberadaan Chevron selama hampir 100 tahun memberi perusahaan tersebut posisi yang sangat kuat dan sulit ditandingi.

“Chevron telah melihat segalanya di Venezuela dan tetap bertahan. Itu memberi mereka keunggulan besar,” kata Seigle. Para analis menilai perusahaan lain akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyaingi kemampuan teknis dan infrastruktur Chevron di negara tersebut. Pasca-operasi militer AS, Chevron menyatakan akan tetap beroperasi sesuai dengan seluruh hukum dan regulasi yang berlaku.